RSS

HAK WANITA MEMILIH CALON SUAMI DIJAMIN OLEH ISLAM

24 Jun

hak wanita memilih pasangan

Saking besarnya kewajiban yang diberikan seorang isteri kepada suaminya dan besarnya hak yang didapat sang suami, bahkan seorang wanita diperbolehkan menolak perintah orangtuanya untuk menikah dengan orang yang tidak disukainya, karena pengorbanan sebesar itu tidak bisa diganti dengan harta sebesar apapun, kecuali karena kerelaan dan keridhoan dari sang wanita,

Dari Abu Said al-Khudri, bahwa ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa putrinya. Orang ini mengatakan, “Putriku ini tidak mau menikah.” Nabi memberi nasihat kepada wanita itu, “Taati bapakmu.” Wanita itu mengatakan, “Aku tidak mau, sampai Anda menyampaikan kepadaku, apa kewajiban istri kepada suaminya.” (merasa tidak segera mendapat jawaban, wanita ini pun mengulang-ulangi ucapannya). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kewajiban istri kepada suaminya, andaikan di tubuh suaminya ada luka, kemudian istrinya menjilatinya atau hidung suaminya mengeluarkan nanah atau darah, kemudian istrinya menjilatinya, dia belum dianggap sempurna menunaikan haknya.”

Spontan wanita itu mengatakan: “Demi Allah, Dzat yang mengutus Anda dengan benar, saya tidak akan nikah selamanya.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepada ayahnya, “Jangan nikahkan putrimu kecuali dengan kerelaannya.” (HR. Ibn Abi Syaibah no.17122)

Sebagaimana hukumnya telah jelas, walaupun darah dan nanah tidak najis, tapi jika sengaja memakannya adalah haram hukumnya, sedangkan yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Was Sallam tidaklah berhubungan dengan memakan darah dan nanah, karena pada dasarnya niatnya bukan untuk memakan darah atau nanah tersebut, tapi sebagai kewajibannya kepada suaminya agar menyenangkan hatinya. Dan pengorbanan seperti ini hanya bisa didasari dengan rasa cinta kepada suaminya, tidak merasa jijik.

Mungkin diantara kita merasa heran, memang bisa begitu dengan rasa cinta. Tidak perlu heran, bukankah para ibu-ibu terbiasa jika anak bayinya pilek, selalu disedot lendir yang keluar dari hidung sang bayi, itu semua terjadi karena rasa cinta. Jika sang bayi mendapat perlakuan seperti itu, maka hak suami lebih besar lagi.

“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain (sesama makhluk) niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Azza Wa Jalla terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya terhadapnya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya bersenggama) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak).” (HR. Ahmad 4/381. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5295 dan Irwa Al-Ghalil no. 1998)

Jangan Salah Paham.

“Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)

Ketika para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami tetap menerimanya walaupun pada diri orang tersebut ada sesuatu yang tidak menyenangkan kami?” Rasulullah  menjawab pertanyaan ini dengan kembali mengulangi hadits di atas sampai tiga kali.

Ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas ditujukan kepada para wali bukan kepada wanita tersebut. Sedangkan sang wanita, dia masih berhak menolaknya, dan berkebalikannya juga jika seorang laki-laki datang melamar dan sudah diketahui kebajikannya dalam ad-Dien dan tidak ditolak oleh calon mempelainya, maka tidak boleh wali dari wanita itu menolaknya apapun alasannya apakah karena miskin hartanya, nasabnya, dan lain sebagainya.

Jadi kepada para wanita, hak kalian untuk memilih pasangan hidup benar-benar dijamin dalam Islam dan Islam menolak kisah Siti Nurbaya.

Ketika wanita menuntut cerai.

Alkisah seorang shohabiyah Habibah binti Sahl yang baru saja dinikahkan dengan Tsabit bin Qais, datang melaporkan persoalannya kepada Rasulullah SAW “Kalau bukan karena takut kepada Allah ketika dia masuk, niscaya kuludahi mukanya”, ujar Habibah binti Sahl mengomentari suaminya. Ia bahkan mengungkapkan hal ini secara langsung kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, aku mempunyai wajah yang cantik sebagaimana engkau lihat, sedang Tsabit adalah seorang laki-laki yang buruk rupanya”. Ia juga menambahkan, “Wahai Rasulullah, kepalaku tidak dapat bertemu dengan kepala Tsabit selama-lamanya. Aku pernah menyingkap kemah, maka aku melihat dia sedang bersiap-siap, ternyata dia sangat hitam kulitnya, sangat pendek tubuhnya dan sangat buruk wajahnya”.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa isteri Tsabit bin Qais bin Syammas telah datang kepada Rasulullah saw lalu berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak mencela akhlaq maupun agama suami saya. Tetapi saya tidak menyukai kekufuran dalam Islam”. Rasulullah saw bertanya, “Maukah engkau serahkan kembali kebun pemberian suamimu?” Ia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah saw bersabda, ”Terimalah kebun itu (hai Tsabit) dan jatuhkanlah talak satu kepadanya” (Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 2036)], Shahiih al-Bukhari (IX/395, no. 5276))

dan boleh hadits diatas berkaitan dengan hadits dibawah ini,

Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya sementara dia tidak suka. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad 1:273, Abu Daud no.2096, dan Ibn Majah no.1875)

Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Janganlah kalian nikahkan anak gadis kalian dengan laki-laki yang bertampang jelek karena wanita itu menyukai laki-laki yang tampan sebagaimana laki-laki itu menyukai perempuan yang cantik” [Takmilah al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab karya jilid 17 hal 214 karya Muhammad Najib al Muthi’i, terbitan Maktabah al Irsyad, Jeddah KSA]

Penjelasan agar tidak salah melangkah

Mungkin sebagian kita merasa heran, benarkah boleh menuntut cerai karena hal sepele, tapi jika kita pahami kisah di atas maka kita akan menemukan titik terang, bahwa Habibah binti Sahl dinikahkan kepada Tsabit bin Qais bukan karena kerelaan dirinya, sehingga Habibah binti Sahl punya alasan yang Syar’i atas tuntutan cerainya.

Namun yang terjadi kebanyakan dari wanita-wanita zaman sekarang, mereka yang memilih sendiri pasangan hidupnya, tapi ketika godaan syetan mendatangi, apakah  karena merasa dikekang oleh suaminya seperti tidak boleh bekerja atau dia merasa tidak puas suaminya seorang miskin atau karena bisikan syetan lainnya, maka serta merta dia menjadi wanita yang awal pernikahannya penuh cinta berbalik jadi penuh kebencian.

Padahal telah jelas bahwa wanita yang menuntut cerai tanpa alasan yang syari maka haram baginya aroma surga.

“(Wanita mana yang meminta perceraian dari suaminya tanpa alasan yang jelas, maka haram baginya aroma surga)” [Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim, al-Baihaqi, dari sahabat Tsaubân]

Jangan Korbankan diri dengan Pacaran

Ketika seorang wanita mengetahui bahwa saat mempunyai hak yang besar sebelum memilih calon mempelai dan kewajiban besar setelah menikah nanti, maka janganlah korbankan diri dengan pacaran, sudah sering terjadi pacaran hanya asyik sebelum menikah saja, tapi setelah menikah, baru terlihat suaminya seorang yang suka main perempuan dan suka berzinah, suka mabuk-mabukan, tidak pernah mendirikan sholat.

Lalu ketika si wanita merasa kecewa dengan suaminya yang jauh dari harapannya yang didapat olehnya hanyalah kedzaliman berupa tamparan, pukulan bahkan tendangan, maka tidak salah berita KDRT sudah sering terdengar, karena bagaimana bisa muncul akhlak yang baik dan kasih sayang dari sang suami jika hatinya sendiri kotor. Terlebih bagaimana mungkin seorang laki-laki mempunyai akhlak yang baik jika dia mau berpacaran, kepada Allah Azza Wa Jalla saja dia terang-terangan berbuat maksiat di depan umum dengan berpacaran tidak punya rasa malu.

Hasan Al Bashri rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki :

“Nikahkanlah puterimu dengan laki-laki yang sholeh sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

Nasehat terakhir,

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Baqarah/2:228).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2012 in tulas -tulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s