RSS

Memang Harus Beda Antara SALAFIYYAH Dengan HIZBIYYAH

12 Nov

(Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)

Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsariy)

Pergolakan antara tentara kebenaran dan tentara kebatilan akan senantiasa berjalan sampai akhir zaman. Para pejuang kebenaran harus memiliki kesabaran yang tinggi dan ilmu yang kuat, sebab ia akan diserang oleh musuh-musuh kebatilan dengan berbagai macam senjata syubuhatnya.

Diantara syubuhat yang mereka arahkan kepada dakwah salafiyyah, dan pengikutnya (salafiyyun), adanya sebagian kitab-kitab yang menyudutkan dakwah salaf, dan salafiyyun, seperti: “Aku Melawan Teroris”(1), “Dakwah Salaf Dakwah Bijak” , “Siapa Teroris Siapa Khawarij” (2) .

Masih segar dalam ingatan terbitnya tiga kitab itu, tiba-tiba muncul lagi kitab baru yang diterjemahkan dari kitab yang berbahasa Arab. Kitab ini juga menyudutkan para salafiyyun, dan memberikan angin segar, dan nafas lega bagi para hizbiyyun di Indonesia, dan Makassar -khususnya-.

Pasalnya, ada sebagian ikhwah Al-Jami’ah Alauddin datang membawa kitab terjemahan itu kepada kami saat ada kajian di Masjid Kampus UIN Alauddin, Makassar. Dia mengisahkan bahwa kitab terjemahan itu ia dapatkan dari kiriman seorang akhwat OrmasWahdah Islamiyyah (WI) kepada ikhwah tersebut. Dia juga mengisahkan bahwa ada seorang ikhwah yang tak mau ikut kajian salaf lagi –wal’iyadzu billah- seusai membaca kitab itu.(3)

Ikhwah ini datang meminta nasihat kepada kami secara pribadi tentang isi kitab itu, walaupun berupa catatan ringkas tentang isi kitab tersebut.

· Kitab Apa itu?

Kitab itu aslinya berjudul “Kasyful Haqo’iq Al-Khofiyyah ‘Inda Mudda’i As-Salafiyyah”. Lalu diberi judul secara serampangan oleh penerjemah dengan “Beda Salaf dengan “Salafi”” (Harusnya Sama Kenapa Beda?)(4). Kitab ini diterjemahkan oleh Wahyuddin, Abu Ja’far Al-Indunisiy; diterbitkan oleh Media Islamika, Solo pada bulan November 2007 M.

Penulis kitab ini bernama Mut’ab bin Suryan Al-’Ashimiy.(5) Konon kabarnya, ia adalah penduduk Makkah sebagaimana yang dijelaskan oleh Peneberbit dalam kata pengantarnya (hal.9). Tidak lebih dari itu !! Siapakah dia? Wallahu a’lam tentang jati dirinya.

Kemudian kitab BSDS ini terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama berupa tulisan asli Muth’ab bin Suryan dari hal. 10-88. Jadi isi kitab aslinya Cuma berisi 78 hal. Bagian Kedua , lalu digembungkan oleh Penerbit dengan tambahan 146 hal yang terdiri dari : cover dalam dari hal. 1-4, pengantar Penerbit dari hal. 5-9, dan tambahan fatwa-fatwa (?) dari hal.89-223. Satu halaman yang tersisa berisi ucapan syukur: tamma bihamdillah. Jadi, tambahannnya hampir 3 kali lipat !! Sebagai amanah ilmiah, semoga saja Penerbit mendapat izin dan ridho dari Penulis sehingga ia boleh menambahkan halaman yang begitu banyak jumlahnya di belakang tulisan Muth’ab, sedang tambahan itu melebihi aslinya!!

· Judul Kitab dalam Terjemahan

Penerjemah memberi judul bagi kitab itu dengan Beda Salaf dengan “Salafi”. Sedang “Salafi” maksudnya disini adalah orang yang mengaku salafi.

Jika kita menelaah isi kitab, maka kita akan mendapatkan bahwa yang dimaksud dengan orang yang mengaku salafi adalah orang yang suka mencela ulama, dan orang suka men-tashnif (menggolongkan) manusia.(6)

Sebenarnya Penulis dalam hal ini salah kaprah(7) tentang mencela, sampai orang yang mengingkari penyimpangan aqidah sebagian orang juga dianggap mencela. Demikian pula, Penulis dan Penerbit salah kaprah dalam mendudukkan semacam Salman, Safar Al-Hawaliy, A’idh Al-Qorniy, Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna sebagai ulama’, padahal bukan ulama’. Kalau pun ia ulama’, apa salahnya mengingkari mereka dengan cara yang hikmah. Para ulama’ dari dulu mengingkari ulama’ yang lainnya, baik dalam perkara fiqih, maupun perkara aqidah. Tak ada yang menganggap hal itu sebagai celaan. Namun herannya di zaman ini ada sebagian pemuda yang dangkal pemahamannya –termasuk Penulis- menganggap hal itu sebagai celaan dan ghibah. (8)

Ini yang dikatakan oleh Penulis dengan pengaku salafi. Selain itu ia menganggap pengaku salafi itu adalah orang yang suka men-tashnif (menggolong-golongkan)manusia.

Sebenarnya jika kita mau memperhatikan judul Arab maupun judul terjemahan, maka sebenarnya Penulis dan Penerjemah sendiri telah melakukan tashnif.(9) Coba perhatikan judul aslinya yang berbunyi “Kasyful Haqo’iq Al-Khofiyyah ‘Inda Mudda’i As-Salafiyyah” (Menyingkap Hakekat yang Samar di Sisi Pengaku Salafi). Lalu perhatikan juga judul yang disematkan oleh Penerjemah yang berbunyi Beda Salaf dengan “Salafi”.

Perhatikan bagaimana Penulis menggunakan istilah mudda’is salafiyyah, dan Penerjemah menggunakan istilah Salafi –dengan tanda petik- yang artinya sama dengan mudda’is salafiyyah (Pengaku Salafi).

Jadi, Penulis dan Penerjemah sama-sama men-tashnif (menggolong-golongkan) manusia, sebab jika disana ada orang yang mengaku salafi, berarti disana ada yang Salafi Sejati. Ini adalah tashnif yang dicela oleh Penulis, dan Penerjemah, namun keduanya melakukan hal itu sendiri(10).

Wahai Penulis dan Penerjemah, dengarkan Allah -Ta’ala- berfirman,

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (QS. Al-Baqoroh:44 ).

Ini dari segi judul. Belum lagi isinya !! Insya’ Allah -Ta’ala- Pembaca yang budiman akan melihat lebih dari ini berupa penyimpangan Penulis, dan kecohannya kepada para pembaca dengan memakai “sistem standar ganda” yang tumpul.

· Inti Pembahasan Kitab BSDS

Jika kita membaca buku terjemahan yang berjudul Beda Salaf dengan “Salafi” (BSDS) dari awal sampai akhir, maka kita akan dapatkan kesimpulan bahwa Penulis BSDS hanya berkisar dalam beberapa perkara (baca:syubhat), diantaranya: Masalah Menggunakan Nama Salafiy atau Atsariy, Larangan Men-tashnif, Tuduhan bahwa Salafiyyun Suka Mencela.

Untuk membantah syubhat-syubhat ini, maka kami akan membawakan beberapa tanya jawab yang akan menghilangkan segala kerancuan tentang manhaj dan dakwah salaf. Berikut tanya jawab tersebut:

[Terlarangkah Memakai Nisbah As – Salafiy atau Al – Atsariy ???]

Penulis BSDS dalam soal 03 (hal. 40), ia menyebutkan ciri khas dan simbol para pengaku salafi, yaitu menggunakan simbol As-Salafiy atau Al-Atsariy diakhir nama mereka atau mengaku dengan lisannya, “Aku adalah salafi”, “Kami adalah salafiyyun”. Jika seorang melakukan hal seperti itu, maka ia dianggap jauh dari intisari yang terkandung.

Dengarkan Penulis berkata dengan ceroboh di bawah judul Slogan Para Pengaku Salafi, “Apa simbol mereka, yaitu orang-orang yang selalu mengaku-aku salafi?”.

Lalu ia jawab sendiri, “Simbol mereka yang dapat dikenali adalah pengakuan “as-salafiyah” atau perkataan mereka, “Kami adalah salafiyyun”, atau “Saya adalah salafi”. Atau mereka sertakan diakhir nama-nama mereka dengan sebutan salafi. Seperti, fulan bin fulan as-salafi atau al-atsari dan demikian seterusnya. Ini merupakan pengakuan yang mengindikasikan jauh dari intisari yang terkandung”.[Lihat BSDS (hal.40)]

Kemudian Penulis membawakan fatwa Syaikh Al-Fauzan yang menyatakan bahwa tidak perlu memakai nama As-Salafiy atau Al-Atsariy, karena beliau khawatir pengakuan itu tidak sesuai dengan perbuatan dan aqidah seorang muslim. Tapi apakah Syaikh melarang secara mutlak? Tentunya tidak !! Bagi orang yang memiliki aqidah dan manhaj sesuai dengan salaf, maka tak apa baginya untuk menamakan diri dengan As-Salafiy atau Al-Atsariy.

Karenanya, Syaikh Al-Fauzan sendiri pernah berfatwa saat ditanya, “Apakah menggunakan nama As-Salafiy dianggap membuat kelompok (hizbiyyah)?”. Syaikh Al-Fauzan -hafizhahullah- menjawab, “ Menggunakan nama As-Salafiy –jika sesuai hakekatnya-, tak mengapa. Adapun jika hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya menggunakan nama As-Salafiy, sedang ia bukan di atas manhaj Salaf. Maka orang-orang Al-Asy’ariyyah -contohnya- berkata, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. Ini tak benar, karena pemahaman yang mereka pijaki bukanlah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Demikian pula orang-orang Mu’tazilah menamai diri mereka dengan Al-Muwahhidin (orang-orang bertauhid).

Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila

Sedang Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka

Jadi, orang yang mengaku bahwa ia berada di atas madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihi (madzhab Ahlus Sunnah.-pent). Adapun jika ia mau mengumpulkan antara “biawak dan ikan pau” –menurut istilah orang-, yakni: mau mengumpulkan hewan daratan dengan hewan laut, maka ini tak mungkin; atau ia mau mengumpulkan antara api dengan air dalam suatu daun timbangan. Maka tak akan bersatu ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan madzhabnya orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Hizbiyyun(11) yang disebut orang dengan “Muslim Masa Kini”, yaitu orang yang mau mengumpulkan kesesatan-kesesatan orang-orang di zaman ini bersama manhaj salaf. Maka “Tak akan baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki awalnya”. Walhasil, harus ada pembedaan dan penyaringan”. [Lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘an As’ilah Al-Manahij Al-Jadidah (hal.36-40) karya Jamal bin Furoihan Al-Haritsiy -hafizhahullah-, cet. Darul Minhaj, 1426 H]

Jadi, menamakan diri dengan As-Salafiy, ini tak apa, jika seorang berada di atas manhaj dan aqidah salaf. Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, “tak ada aibnya orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbahkan diri kepadanya, dan mengasalkan diri kepadanya. Bahkan wajib menerima hal itu darinya menurut kesepakatan (ulama’), karena madzhab salaf, tidak ada, kecuali benar”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (4/149)]

[Salahkah Ahlus Sunnah (Salafiyyun) ketika Mereka Men-tashnif (mengelompokkan) Manusia ?]

Penulis Beda Salaf dengan “Salafi” (BSDS) telah menuduh Salafiyyun secara keji ketika ia menjelaskan tugas Iblis(12) yang diemban oleh para salafiyyun –menurut sangkaan buruk dan kejinya-. Apa tugas Iblis tersebut? Tugas Iblis adalah men-tashnif: mengklasifikasi manusia.(13) Jadi, menurutnya tak boleh seorang menyatakan fulan Tabligh, Ikhwanul Muslimin (IM), Salafiyyun, Shufiy, Syi’ah, Wahdah Islamiyyah (WI), dan lainnya

Silakan dengarkan Penulis BSDS menjelaskannnya tugas Iblis yang dimaksud dalam BSDS (hal.45) di bawah sub judul “Tugas Iblis“ , “Apa pekerjaan pokok yang menyatukan mereka dan dengannya mereka dikenali?”.

Kemudian si Penulis sendiri yang menjawab, “Jawab: Tugas utama mereka adalah (mengklasifikasikan manusia)berdasarkan hawa nafsu dan was-was. Itulah yang menjadi kesibukan di setiap majelis dan tempat-tempat berkumpul mereka(14) serta menjadi pekerjaan rutin mereka dengan segala kesungguhan dan potensi diri yang dimiliki tanpa memandang orang selainnya itu baik”. [Lihat BSDS (45)]

Sejak dahulu sampai sekarang para ulama kita masih terus memberikan label bagi kelompok-kelompok sesat, bahkan kelompok-kelompok sesat itu sendiri yang melabeli dirinya.

Perlu kami jelaskan bahwa kata tashnif ditinjau secara bahasa, maka ia bermakna :”Membedakan sesuatu, sebagiannya dari sebagian yang lain”.(15)

Tashnif (membedakan dan mengelompokkan manusia), ini bisa kita dapatkan dalam Kitabullah, As-Sunnah, atsar para salaf.

Bukankah kita kita dapati dalam Kitabullah bahwa Allah -Ta’ala- membagi manusia: mukmin dan kafir, taat & suka maksiat, muslim & munafiq. Bahkan orang mukmin dan kafir dibagi lagi.

Dalam Sunnah kita dapati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- membagi manusia : mukmin dan kafir, taat & suka maksiat, muslim & munafiq. Bahkan orang mukmin dan kafir dibagi lagi. Yang mukmin ada yang ahlus sunnah & ahli bid’ah. Ahli bid’ah terbagi lagi. Karenanya kita akan dapati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan golongan Al-Qodariyyah,

“Al-Qodariyyah majusinya ummat ini”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4691). Di-hasan-kan oleh Muhaddits Negeri Syam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy-rahimahullah- dalam Zhilal Al-Jannah (338)]

Demikian pula dalam sunnah disebutkan ciri dan anjuran memerangi orang-orang Khawarij(16)

Sejak dulu para ulama kita telah membedakan ini Mu’tazilah, ini Shufiyyah, ini Murji’ah, ini Khawarij, dan ini Syi’ah sehingga istilah-istilah ini terkenal sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Hazm –misalnya- dalam Al-Fishol fil Milal wal-Ahwaa’ wa An-Nihal, Abdul Qohir Ibn Muhammad Al-Baghdady dalam Al-Farq bainal Firoq, Asy-Syahrostany dalam Al-Milal Wa An-Nihal. Demikian pula ulama’-ulama’ mutakhirin pun menggunakan istilah-istilah untuk jama’ah dakwah agar bisa dibedakan dari dakwah Ahlus Sunnah. Misalnya, Syaikh Ibn Baz, Syaikh Al-Albany dalam berbagai kitab dan kasetnya, Syaikh At-Tuwaijiry dalam At-Tahdzir Al-Baligh min Jama’ah At-Tabligh, Syaikh Al-Fauzan dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, Syaikh Ahmad An-Najmy-hafizhohumullah- dan lainnya.

Nah, Apakah menggunakan istilah-istilah (seperti Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir dan lainnya) terlarang sementara para ulama kita memakainya dalam rangka membedakan mereka dari pengikut dakwah salaf??

Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily –hafizhohullah- berkata setelah menerangkan asal kata Salafiyyun, “Dengan ini, nyatalah bahwa penggunaa nama ini (yaitu, nama Salafiyyun,pent)bagi Ahlus Sunnah adalah sesuatu yang syar’i dan kembali -pada asal maknanya- kepada nama-nama mereka (Ahlussunnah) yang Syar’i. Seperti: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Ath-Tho’ifah Al-Manshuroh, Al-Firqoh An-Najiyah untuk membedakan antara mereka (Ahlus Sunnah-Salafiyyun, pen) dengan orang-orang yang menisbahkan diri kepada Islam dari kalangan orang-orang yang menyimpang dari aqidah yang benar yang Rasul –Shollallahu alaihi wasallam- meninggalkan ummatnya da atasnya.Karenan ini, para ulama’ muhaqqiqin telah menyebutkan bahwa istilah Salafhanyalah muncul ketika terjadi perselisihan seputar prinsip-prinsip agama diantara kelompok-kelompok ahli kalam, dan semuanya berusaha menisbahkan diri kepada As-salaf Ash-sholih(17). Maka hal ini mengharuskan munculnya kaedah-kaedah yang jelas bagi manhaj salaf yang akan membedakannya dari orang yang mengaku menisbahkan diri kepada Salafiyyah (manhaj salaf)” (18).

Sekali lagi, Apakah membedakan kelompok-kelompok yang ada dengan memberi label kepada mereka dengan menggunakan kata Ikhwani, Tablighi, Tahriri, WI, NII bagi kelompok-kelompok yang menyimpang dari rel Salaf merupakan perkara yang salah??

Jawabnya, tentu tidak berdasarkan amaliyyah ulama’. Bahkan Nabi–Shollallahu alaihi wasallam- juga membedakan ini muslim, itu kafir dan beliau juga pernah bersabda dalam memberi label kepada orang-orang yang mengingkari takdir:“Al-Qodariyyah: majusinya ummat ini…”.(19)

Jika kita tidak memberi label kepada kelompok da’wah sufiyyah modern (baca: Jama’ah Tabligh), kepada kelompok da’wah Neo Mu’tazilah(baca: HT) dan lainnya, maka kapankah umat tahu kawan dan lawan mereka. Apakah setelah mereka terjerat dalam kesesatan kelompok-kelompok itu, baru kita berteriak-teriak kepanikan !!

Dulu ketika kami masih di Wahdah Islamiyyah, kami sering kali mendengar kata “ MANIS ”(20), Jama’ah Tabligh, IM, HT, dan lainnya dari mulut para pengikut WI dan para ustadznya. Bahkan label “MANIS” mereka jadikan bahan untuk menyudutkan Salafiyyun. Bukankah ini juga tashnif?? Mengapa justru fenomena tashnif ini malah diarahkan dan dituduhkan kepada orang lain tanpa hujjah. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Kalian nyuruh orang agar tidak melakukan tashnif, tapi kalian sendiri men-tashnif manusia. Wallahi, hadza lasyai’un ujaab!!

Jika seorang men-tashnif jama’ah-jama’ah yang menyimpang, apakah ini keliru, dan dimana letak kekeliruannya. Maka kami akan katakan kepada anda sebagaimana yang dikatakan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-, ”Jika engkau beradu argumen dengan salah seorang dari mereka, maka engkau tidak akan menemukan apapun darinya kecuali sepotong semangat yang menggerakkannya tanpa landasan ilmu yang jelas. Maka ia pun masuk ke dalam akal orang-orang bodoh dengan semboyan “ghirah terhadap dien”, “menolong sunnah”, dan “persatuan ummat”.(21) Padahal merekalah yang pertama kali yang mengayunkan palu godam untuk menghancurkan dan mengoyak-ngoyak keutuhannya…” (22)

Adapun nukilan Penulis berupa larangan men-tashnif manusia dari Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Tashnif An-Naas baina Azh-Zhonni wal Yaqin, maka ada baiknya kita dengarkan komentar dua orang ulama’ kita tentang kitab Syaikh Bakr ini sehingga kita bisa mengetahui bobot pandangan Syaikh Bakr:

Al-Allamah Muhaddits Ad-Diyar Al-Yamaniyyah, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy As-Salafiy -rahimahullah- berkata, “Risalah Saudara kami Bakr bin Abdillah Abu Zaid “Tashnif An-Naas baina Azh-Zhonni wal Yaqin ” teranggap sebagai sesuatu yang paling jelek beliau tulis. Kebanyakan diantara tulisannya –Alhamdulillah- teranggap sebagai tulisan yang paling baik. Semoga Allah membalasinya dengan kebaikan”.[Lihat Nasho’ih wa Fadho’ih (hal.112) karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Al-Atsariy, cet. Maktabah Shon’a’ Al-Atsariyyah, 1425 H]

Kenapa kitab tersebut dinilai demikian oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Al-Atsariy ??! Jawabnya: kita dengarkan Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy -hafizhahullah- memberikan perincian yang lebih panjang saat beliau berkata mengingkari Syaikh Bakr dalam bentuk dialog, “Sesungguhnya aku melihat asap kebakaran yang mengepul bagaikan awan hitam yang tebal dari kitabmu Tashnif An-Naas, dan surat selebaranmu yang melanggar ini. Maka kitabmu Tashnif An-Naas, di dalamnya terdapat penyelisihan terhadap sabda Rasul yang Mulia -Shollallahu ‘alaihi wasallam,

“Orang-orang Yahudi telah berpecah menjadi 72 golongan. Orang-orang Nashroni berpecah menjadi 72 golongan. Ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu”. Mereka (para sahabat) berkata, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” “.(23)

Para salaf telah menggolong-golongkan manusia ke dalam (beberapa golongan, seperti):Khawarij, Rofidhoh, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah. Mereka membagi setiap firqoh (golongan) menjadi beberapa golongan. Telah ditulis beberapa kitab dalam hal itu berdasarkan realita golongan-golongan itu”. [Lihat Al-Hadd Al-Fashil (hal.140-141), karya Syaikh Robi’ Al-Madkholiy, cet. Maktabah Al-Furqon, 1421 H]

Selain itu, kitab Tashnif An-Naas sebenarnya bisa dipukulbalikkan kepada para hizbiyyun yang suka mencela ulama’ Ahlus Sunnah –semisal Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy Syaikh Robi’, Syaikh Muqbil – dan suka mencela pemerintahnya, bahkan ingin memberontak.

[Memangkah Salafiyyun Mencela?]

Penulis BSDS dalam beberapa tempat telah menuduh Salafiyyun mencela, benarkah demikian?

Penulis BSDS berkata, “Bendera tersebut dibawa oleh sekelompok orang yang menipu dari orang-orang yang mengaku salafi. Mereka menampakkan diri di hadapan manusia dengan penampilan seolah-olah mencuplik ilmu para ulama dan mutiara hikmah orang-orang bijak. Tampak dengan pakaian kebesaran dalam peribadatan yang menipu, mereka beralasan ini adalah sebuah nasihat dan kritik yang membangun serta untuk meluruskan kesalahan. Akan tetapi, sebenarnya adalah celaan dan hinaan sehingga mereka pun tersesat“.[Lihat BSDS (hal.23)](24)

Jika yang dimaksudkan mencela adalah meng-ghibah, dan mencaci-maki, maka ini tak benar. Namun jika yang dimaksud mencela adalah mengingkari kemungkaran para hizbiyyun, dan ahli bid’ah secara umum, maka ini memang benar, karena ini termasuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagian orang-orang yang lemah hatinya dan sedikit ilmunya akan sempit dadanya ketika menelaah kitab-kitab yang berisi bantahan. Ini didasari bahwa menjauhi bantah-membantah merupakan jalan yang paling dekat kepada waro’, dan lebih menjaga kehormatan kaum muslimin.

Namun jika seseorang mau sedikit meneliti sejarah perjalanan para ulama’ kita, maka hal itu akan mengabarkan anda bahwa tak ada suatu zaman pun yang kosong dari bantahan atas mukholif (orang menyelisihi kebenaran), walaupun ia (orang yang dibantah) adalah orang pilihan.(25)

Tatkala hampir semua kelompok-kelompok hizbiyyah berusaha menguburkan perkara an-naqd adz-dzati (bantahan atas person tertentu), menggugurkan amar ma’ruf nahi munkar, dan mengosongkan pertahanan kaum muslimin. Terkadang dengan dalih “menutupi aib kaum muslimin”, mengumpulkan makar bagi orang-orang kafir, dan lainnya diantar hujjah-hujjah yang didasari oleh perasaan yang menjadikan akal-akal mereka tercekoki di saat lemahnya ilmu. Semua ini mengharuskan kita untuk mengembalikan kebenaran pada tempatnya.

“agar dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (QS. Al-Anfaal: 42).

Syaikh Bakr Ibn Abdillah Abu Zaid -hafizhahullah- berkata, “Orang-orang yang bersilat lidah demi mengingkari naqd (bantahan) terhadap kebatilan –walaupun sebagian diantara mereka nampak kesholehan-, tapi semua ini adalah bentuk lemahnya semangat, kurang memahami kebenaran. Bahkan pada hakikatnya, itu adalah bentuk larinya seseorang dari medan laga di hari peperangan; lari dari daerah pertahanan agama Allah. Ketika itu orang yang terdiam dari ucapan kebenaran laksana orang yang berbicara dengan kebatilan dalam dosa.

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata, “Orang yang terdiam dari kebenaran adalah setan bisu; orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah mengabarkan tentang berpecahnya ummat ini menjadi 73 golongan. Keselamatan darinya bagi satu golongan yang berada di atas manhaj kenabian.

Apakah orang-orang yang mengingkari boleh memberikan pengingkaran dan bantahan kepada orang-orang yang menyimpang; apakah mereka ini menjadikan ummat ini menjadi satu golongan saja. Padahal terjadi perbedaan aqidah yang saling kontradiksi; ataukah itu adalah propaganda untuk mencerai-beraikan kalimat tauhid. Waspadailah !!

Mereka tak punya hujjah, selain lontaran ucapan-ucapan batil, “Jangan kalian memecah barisan dari dalam”(26) , “Jangan kalian menghamburkan debu di luar”(27) , “Jangan kalian mengobarkan khilaf di natara kaum muslimin!”, “Kita bersatu dalam perkara yang kita sepakati, dan saling memaafkan dalam perkara yang kita perselisihkan”. Demikianlah halnya.

Iman yang paling rendah, kita katakan kepada mereka, “Apakah para pelaku kebatilan itu mau diam afar kita juga bisa diam; ataukah mereka menyerang aqidah di depan mata dan pendengaran kita, lalu kita diminta diam? Ya Allah, ini tak mungkin !!”

Kami memohon perlindungan kepada Allah bagi setiap muslim dari serangan hujjah orang-orang Yahudi. Mereka (orang-orang Yahudi) berselisih (berpecah-belah) tentang Al-Kitab, dan menyelisihi Al-Kitab. Sekalipun demikian mereka berusaha menampakkan persatuan dan kebersamaan. Namun Allah -Ta’ala- telah mendustakan mereka seraya berfirman,

“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu Karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al-Hasyr:14).

Diantara sebab mereka dilaknat, apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat”. (QS. Al-Maa’idah:79)” . Selesai ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-.(28)

Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah- berkata lagi,“Oleh karena ini, Jika Anda melihat ada orang yang membantah orang menyelisihi (kebenaran, -pent) dalam hal keganjilan fiqih, atau ucapan bid’ah, maka bersyukurlah kepadanya atas pembelaannya, sesuai kemampuannya. Janganlah engkau menggembosinya dengan ucapan yang hina ini, (”Kenapa orang-orang sekuler tak dibantah?!“). Manusia masing-masing memiliki kemampuan dan bakat (29) , sedang membantah kebatilan adalah wajib (bagi setiap orang,-pent), walaupun bagaimana tingkatannya. Setiap muslim berada dalam batas pertahanan agamanya”. [Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif (hal.57), dan Sittu Duror (hal.111)]

Memberikan peringatan sesatnya suatu kelompok , baik dalam bentuk ceramah, maupun tulisan, itu bukanlah ghibah yang diharamkan. Boleh menyebutkan kesesatan seseorang, dan penyimpangannya di depan orang banyak, jika kemaslahatan menuntut hal itu.

Ibrahim An-Nakho’iy-rahimahullah- berkata, “Tak ada ghibah bagi pelaku bid’ah (ajaran baru)”. [Lihat Sunan Ad-Darimiy (394)]

Muhammad bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjaniy-rahimahullah- berkata, “Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Sungguh amat berat aku bilang, “si Fulan orangnya lemah, si fulan pendusta”.Imam Ahmad berkata, “Jika kau diam, dan aku juga diam, maka siapakah yang akan memberitahukan seorang yang jahil bahwa ini yang benar, dan ini yang sakit (salah)”. [Lihat Thobaqot Al-Hanabilah (1/287)]

Sekali lagi kami nyatakan bahwa mengingkari penyimpangan, dan kekeliruan sebuah kelompok atau person bukanlah celaan atau ghibah. Tapi ia merupakan nasihat yang akan menjaga kemurnian Islam dari tangan-tangan jahil. Andaikan pengingkaran seperti ini tak ada, maka hancurlah agama yang suci ini, dan dunia ikut menjadi binasa.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. (QS. Al-Baqoroh: 251 )..

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj: 40).

=====================

Footnote :

(1) Adapun kitab ini, maka ia telah dibantah tuntas oleh Ustadz Dzul Qornain dalam kitabnya “Meraih Kemulian Melalui Jihad, bukan Kenistaan”, dan Ustadz Luqman Ba’abduh dalam “Mereka itu adalah Teroris”. Jazahumallah khoiron.

(2) Dua kitab ini telah dibantah oleh Ustadz Luqman Ba’abduh -hafizhahullah- dalam kitabnya “Menebar Dusta, Membela Teroris-Khawarij”.

(3) Selain itu, seorang yang tak mau menyebutkan identitasnya telah mengirim SMS kepada sebagian salafiyyun dengan membanggakan kitab itu. Di lain tempat lagi, seorang anggota Wahdah Islamiyah (WI) juga “perang” dengan seorang ikhwah salafiy lewat SMS dengan bersenjatakan buku ini. Dengan bangganya, mereka menebar syubuhat di kalangan salafiyyun. Sedang Cordova Agency (milik anggaota WI) menyebarkan buku ini dalam rangka menyebar syubhat. Mereka telah ta’awun di atas dosa dan permusuhan. Nas’alullahal afiyah was salamah.

(4) Selanjutnya kami sebut dengan “BSDS“

(5) Selanjutnya kami sebut dengan Penulis.

(6) Dari sini kita tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Penulis dengan pengaku salafi adalah ulama salafiyyah, seperti Syaikh Al-Albaniy, Muqbil Al-Wadi’iy, Robi’, serta murid-murid mereka atau ulama’ salafiyyun secara global dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebenaran. Mereka inilah yang gigih menjelaskan aqidah, dan mengingatkan ummat tentang penyimpangan hizbiyyah dan ahli bid’ah sampai Penulis berang dan emosi melihat usaha baik mereka ini. Akhirnya, ia ingin menutupi kebaikan para ulama itu dengan menulis buku BSDS-nya yang penuh dengan tuduhan keji seperti yang Anda akan lihat, Insya’ Allah !! Kenapa ia menulisnya? Yah, untuk membela Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Salman, Safar Al-Hawaliy, A’idh Al-Qorniy, dan hizbiyyun secara umum.

(7) Kami tak mau mengatakan bahwa Penulis menipu, sebab nanti dianggap lagi suka mencela. Sekalipun tak ada salahnya jika kita mau katakan demikian sebagaimana yang dilakukan oleh Penulis dalam beberapa tempat dalam kitabnya itu.

(8) Tapi di lain sisi, usai melarang orang “mencela”, eh malah ia balik “mencela” sebagaimana Anda akan melihat hal itu dalam tulisan ini..

(9) Insya’ Allah -Ta’ala- kami akan membantah pernyataan Penulis yang melarang manusia men-tashnif dalam pembahasan-pembahasan berikut.

(10) Tashnif semacam ini juga dilakukan oleh sebagian da’I hizbiyyah yang membagi salafiyyun menjadi dua: salafi haraki, dan salafi Yamani. Yah, sekalipun pembagian ini batil menurut kaedah as-sabr wat taqsim!! Namun demikianlah realita mereka; melarang orang lain melakukan tasbnif, tapi malah mereka adalah gem dan dedengkotnya pelaku tashnif.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (QS. Al-Baqoroh:44 ).

(11) Benar sekali apa yang dinyatakan oleh beliau !! Tak mungkin Ahlus Sunnah (baca: Salafiyyun) akan bergabung dengan Khawarij, yaitu orang-orang senang memberontak kepada pemerintahnya, baik berupa demo, celaan terhadap pemerintah, perlawanan bersenjata di hadapan penguasa. Tak mungkin Salafiyyun akan bersatu dengan Tabligh yang gandrung sufiyyah, atau HTI, At-Turots, IM dan lainnya yang senang mencela pemerintah, dan mendemo mereka.

(12) Menuduh Salafiyyun mengemban tugas Iblis, ini adalah salah satu tanda bahwa Penulis Memiliki Lisan yang Tajam dalam Mencela Orang. Masak para salafiyyun dianggap membawa tugas Iblis. Nanti kita lihat –insya’ Allah- siapakah yang mengemban misi Iblis ??

(13) Adapun seorang da’i Wahdah Islamiyyah (Muhammad Ihsan Zainuddin) yang getol menyudutkan salafiyyun secara zholim, maka ia berkata dalam mendefinisikan kata tashnif dalam sebuah artikel yang berjudul Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah (1), “Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.[Lihat Majalah Islamy (2/1/1426 H) (hal.48)]

(14) Saya khawatir jika ini adalah pekerjaan si Penulis BSDS dalam segala majelis dan keadaannya sehingga ia bisa mengeluarkan kitab BSDS !! Lempar batu sembunyi tangan. Penulis BSDS dalam kitabnya ini telah men-tashnif salafiyyun ke dalam 6 kelompok sebagaimana Anda bisa lihat dalam BSDS (hal. 71-72) ketika ia membagi salafiyyun menjadi: Al-Hasadah, Al-’Uqdah, Al-Murtaziqoh, Al-Muqollidun, Al-Makhdu’un, dan An-Naqimun. Ini adalah bukti autentik bahwa Penulis BSDS sendiri ikut men-tashnif manusia. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.

Fa’tabiruu ya ulil abshor !!

(15) Lihat Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh, hal.554 karya Abul Husain Ibn Faris cet. Dar Ihya’ At-Turoots Al-Aroby, dan Lisan Al-Arab (7/423) cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Araby dan Mu’assasah At-Tarikh Al-Araby. Adapun seorang da’i Wahdah Islamiyyah (Muhammad Ihsan Zainuddin) yang getol menyudutkan salafiyyun secara zholim, maka ia berkata dalam mendefinisikan kata tashnif dalam sebuah artikel yang berjudul Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah (1), “Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.[Lihat Majalah Islamy (2/1/1426 H) (hal.48)]

(16) Misalnya lihat Shohih Al-Bukhoriy (Kitab Istitab Al-Murtaddin: bab Qotlil Khawarij wal Mulhidin ba’da Iqomah Al-Hujjah alaihim),Shohih Muslim (Kitab Az-Zakah: bab Dzikr Al-Khawarij wa Shifatuhum), Sunan Abi Dawud (Kitab As-Sunnah; bab Al-Khawarij), Sunan At-Tirmidziy (Kitab Al-Fitan: bab Fi Shifah Al-Khawarij), Sunan An-Nasa’iy (Kitab Tahrim Ad-Dam; bab Man Syahhar Saifah Tsumma Wadho’ah fin Naas), Sunan Ibni Majah (Fadhl Ibni Abbas: bab Dzikr Al-Khawarij)

(17) Para sahabat, Tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

(18) Lihat Mauqif Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah (1/64)

(19) HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4691). Di-hasan-kan oleh Muhaddits Negeri Syam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy-rahimahullah- dalam Zhilal Al-Jannah (338)

(20) Singkatan dari Markaz An-Nasyath Al-Islamiy. Orang yang menyingkatnya bukan Salafiyyun. Yang sering menyingkat demikian adalah orang-orang WI,!! Markaz An-Nasyath Al-Islamiy dahulu adalah yayasan yang didirikan oleh Salafiyyun di Makassar sebagai wadah dalam mempermudah urusan dakwah. Salafiyyun tak pernah menisbahkan diri kepada MANIS. Ketika salafiyyun ditanya, antum ikut kajian apa atau dari mana? Jawabnya tidak menyatakan kami dari MANIS. Yang menisbahkan Salafiyyun kepada MANIS (Markaz An-Nasyath Al-Islamiy) adalah orang-orang YWI dalam menyudutkan Salafiyyun di Makassar. Kebanyakan Salafiyyun tak kenal apa itu MANIS, kecuali setelah dimasyhurkan oleh YWI. Para da’I salafiyyun tidak mengenal selain istilah Salafiy atau Atsariy. Mereka hanya menisbahkan diri kepadanya. Ketika ditanya, apa madzhab dan manhaj antum. Mereka jawab, kami adalah salafiy atau atsariy.

(21) Sampai ada diantara mereka, masjidnya pun disebut dengan “ Wihdatul Ummah” (Persatuan Ummat). Sekalipun demikian, merekalah yang pertama kali mengayunkan palu godam atas ummat ini. Buktinya, mereka mengajak ummat untuk berdemo sebagai tanda pembangkangan mereka kepada pemerintah muslim. Mereka melarang anak-anak untuk kajian ke tempat lain sekalipun kajian pada salafiyyin. Bukankah ini merupakan pemecahbelahan ummat? Jelas ini pemecahbelahan ummat, bahkan juga tashnif. Yang satunya bilang: “kami Wahdah Islamiyyah”, yang lain bilang, “Kami Hizbut Tahrir”; yang lain lagi bilang, “Kami Tabligh”, dan satu lagi bilang, “Ikhwanul Muslimin”. Satu sama lainnya saling melarang anak kajiannya untuk bergabung dengan yang lainnya karena takut -alasannya- kalau anak kajiannya “direbut” (baca: dirampas) orang. Bukankah semua ini tashnif !!?fa’tabiruu ya ulil abshor

(22) Lihat Majalah Al-Islamy (2/I/1426 H, hal.54)

(23) HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2641), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (444), Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu anha (hal.15-16), Al-Ajurriy (16), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (2/262/no.815), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (hal.18), Al-Lalika’iy dalam Syarh Al-I’tiqod (147), dan Al-Ashbahaniy dalam Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah (1/107). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy Al-Atsariy dalam Basho’ir Dzawisy Syarof (hal.75), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.

(24) Perhatikan Penulis telah mencap salafiyyun dengan kesesatan !! Bukankah ini adalah celaan ?! Fa’tabiru ya ulil abshor.

(25) Tapi tentunya dengan cara hikmah (bijak), sebab salafiyyun tahu berbuat bijak, bukan seperti yang dituduhkan oleh kaum hizbiyyun bahwa mereka (Salafiyyun) adalah kaum yang jahil, tidak memiliki fikih dalam mengingkari. Malah kaum hizbiyyun sebenarnya yang jahil, tak berhikmah. Lihat saja ketika mereka menasihati penguasa, mereka menyelisihi manhaj salaf !!

(26) Istilah kita, “Jangan mengguting dalam lipatan”

(27) Istilah kita, “Jangan mengacaukan suasana”, “Jangan memancing di air keruh”

(28) Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif min Ushul Al-Islam (hal.75-76) karya Syaikh Abu Zaid, dan Sittu Duror min Ushul Ahlil Atsar (hal. 109-110) karya Syaikh Abdul Malik Romadhoniy Al-Jaza’iriy.

(29) Maksud beliau bahwa jika ada orang yang membantah pelaku kebatilan, yah itulah kemampuan dan kesempatannya. Lalu kenapa tidak membantah orang-orang sekuler, yah serahkan kepada yang lain lagi, yang memiliki kemampuan membantah orang-orang sekuler !! Wallahu A’lam .

Sumber: http://almakassari.com/?p=238

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in tulas -tulis

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s