RSS

Fitnah Kubro, Klarifikasi Sikap serta Analisis Historis dalam Perspektif Ahli Hadits dan Imam Ath-Thabary

12 Nov

Secara sederhana, sejarah dapat kita sebut sebagai ‘catatan tentang masa lampau’. Catatan yang menggambarkan kehidupan masyarakat manusia pada masa-masa silam dari berbagai bidangnya; kehidupan beragama (dalam hal ini yang paling menonjol adalah ideologi), pergaulan sosial, iklim politik, tatanan ekonomi, disiplin hukum, komitmen pada nilai-nilai moral dan etika dan aspek-aspek lainnya. Kesemua aspek itu terangkum dalam sebuah catatan dan itulah yang kita sebut sebagai ‘sejarah’.

Jadi meneropong sejarah suatu bangsa tidak bisa ditinjau hanya dari satu aspek semata-mata, aspek ekonomi umpamanya. Karena ekonomi bukan sisi yang berdiri sendiri dan terpisah dari sisi lainnya. Prilaku ekonomi sering diwarnai oleh visi terhadap materi. Visi ini sangat terkait dengan ideologi. Sebab, manusia adalah makhluk yang integrated, yang melakukan sejumlah peran dalam hidupnya. Tidak ada manusia yang hidup hanya untuk aspek tertentu saja. Masyarakat juga demikian. Masyarakat yang merupakan kumpulan dari sejumlah individu, tidak ada yang secara khusus memerankan satu aspek dalam kegiatan hidupnya. Tapi dalam masyarakat itu, terdapat sejumlah aspek yang diperankan oleh suatu masyarakat. Demikian pula halnya suatu bangsa yang merupakan kumpulan dari masyarakat.

Dengan demikian, setiap kali kita ingin menyoroti sejarah suatu masyarakat dari satu sisi belaka, tidak mengikutsertakan sisi lainnya, maka selama itu pula analisis kita menjadi timpang dan tidak menemukan titik-titik kebenaran. Karena metodologi kita dalam memahami sejarah belum benar. Maka kesimpulan yang dihasilkanpun juga tidak benar.

Begitulah halnya umat Islam. Seorang peneliti yang membaca sejarah umat Islam untuk priode tertentu, tidak bisa memfokuskan penelitiannya hanya untuk aspek tertentu dengan tidak mempedulikan aspek lainnya, khususnya ideologi (`aqidah) yang membentuk visi dan cara pandang umat Islam terhadap aktifitas hidup yang beraneka ragam. Sebab umat Islam, di kurun apapun mereka hidup, adalah komunitas yang visi dan misinya dibentuk oleh `aqidahnya. Kendatipun peneliti tadi bukan secara khusus menyoroti aspek ideologi dan kehidupan spiritual umat Islam, tetapi ia umpamanya hanya meneliti aspek ekonomi atau politik masyarakat muslim tertentu di zaman tertentu pula, namun ini adalah masalah yang melekat pada diri umat Islam. Kekeliruan metodologi akan berpengaruh besar pada kesimpulan yang dihasilkan.

Penulisan sejarah

Ada dua pihak yang terlibat dalam penulisan sejarah Islam: 1. Penulis sejarah atau biasa disebut dengan ‘mu’arrikh‘ atau ahli sejarah dan 2. Nara sumber yang memberi masukan kepada penulis sejarah yang bisa kita sebut sebagai informan atau ‘ikhbari’. Informan memberikan bahan baku kepada ahli sejarah dan oleh ahli sejarah ditulis sebagai sejarah.

Kedua unsur di atas berpengaruh besar pada tampilan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bila salah satu dari kedua unsur tersebut mengalami distorsi, apalagi kedua-duanya, maka tampilan sejarah yang akan dibaca oleh generasi belakangan akan demikian buruknya sehingga menghilangkan rasa percaya pada generasi awal yang sebenarnya tidak demikian yang terjadi.

Penulis sejarah Islam dapat dibagi menjadi tiga:

1. Penulis sejarah yang dari awal tidak mampu bersikap obyektif dan telah menampakkan kepemihakannya kepada kepentingan tertentu. Termasuk dalam kategori ini misalnya: al-Mas`udi, al-Ya`qubi dan lainnya. Mereka ini memang sengaja memberi warna tertentu dalam kitab sejarah yang mereka tulis, yakni warna syi`ah. Mereka hanya memuat informasi sepihak yang memburuk-burukkan Mu`awiyah [ra] dan sahabat-sahabat Nabi lainnya. Dan di sisi lain menyanjung-nyanjung `Ali [ra] dan keluarganya sampai ke tingkat mengkultuskannya. Berita yang mereka peroleh dari ikhbari/informan, diterima bulat-bulat, tanpa seleksi dan bahkan dibumbu-bumbui dengan cerita bohong.

2. Penulis sejarah yang selektif. Mereka ini dalam menerima informasi sejarah (khabar) yang bernada miring, terlebih dahulu mengukurnya dengan standar al-Qur’an dan al-Sunnah, khususnya yang berkaitan dengan watak dan karakter sahabat Nabi saw. Bila berita tersebut menyimpang jauh dari petunjuk al-Qur’an dan ucapan Nabi, mereka tidak segan-segan menolaknya. Apalagi berita itu muncul dari seorang nara sumber yang fanatis kepada salah satu pihak, seperti para ikhbari syi`ah rafidhah yang menghalalkan semua cara untuk memukul lawannya. Penulis yang selektif berusaha menghindari informasi dari narasumber yang murahan itu. Termasuk mu’arrikh kelompok ini ialah Abu Bakar ibn al-`Arabi (bukan Ibnu `Arabi) dalam kitabnya al-`Awashim min al-Qawashim dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah.

3. Ada penulis sejarah yang menempuh metode lain. Dalam menyikapi berita-berita miring dari para ikhbariyyin syi`ah dan khawarij, mereka menerima sebagian khabar-khabar itu untuk dimuat dalam kitab-kitab mereka, bukan untuk mereka yakini kebenarannya, tetapi sekadar menyajikannya sebagai informasi, si A berkata begini, si B berkata begitu… Mereka, dengan ilmunya dan kejeliannya, sudah mengetahui mana berita yang benar dan mana yang palsu dan dibuat-buat. Khabar-khabar itu mereka paparkan dengan menyebutkan mata rantai sumber berita itu yang lazim disebut isnad dalam ilmu hadits. Secara tanggung jawab moral, mereka, para penulis sejarah tadi, sudah terlepas tugas dan tanggungjawabnya. Karena, suatu berita kendatipun diragukan kebenarannya, selama disebut narasumbernya, maka tanggungjawab penulis sudah lepas. Ada semacam kaidah dalam ilmu hadits, ‘barangsiapa yang telah menyebutkan isnadnya, berarti telah lepas tanggungjawabnya’. Tanggungjawabnya sekarang ada di pundak pembaca. Pembaca harus mempelajari kebenaran berita itu dengan metode pelacakan validitas si pembawa berita (ikhbari).

Pertanyaan yang mungkin mengganjal di benak sebagian pembaca kontemporer, mengapa mu’arrikh itu memuat berita-berita miring yang dia sendiri tidak percaya kebenarannya? Jawabannya adalah karena tugas mereka adalah mengumpulkan berita sejarah, bukan dalam konteks menilai atau menyeleksi berita sejarah. Semua yang mereka terima, mereka koleksi dan paparkan seperti yang dituturkan oleh nara sumber -hanya saja dengan isnad. Sebab pemuatan informasi-informasi sejenis itu, tak dapat dipungkiri ada juga faedahnya. Paling tidak orang mengetahui berita yang tidak benar itu seperti apa adanya. Dan berita-berita itu terkadang ada yang memuat rincian suatu peristiwa yang tidak didapat dalam berita yang valid. Kemudian, kitab-kitab itu ditulis pada zaman dimana tingkat pemahaman masyarakat muslim terhadap sejarah pendahulunya relatif baik sehingga kontroversi itu tidak mengganggu pola pikir mereka. Tidak seperti zaman kita, dimana masyarakat muslim lebih banyak yang buta sejarah dan daya deteksinya relatif lemah. Ketika mendengar berita-berita miring, mereka langsung percaya begitu saja, tanpa bersikap kritis terhadap informasi itu.

Penulis yang termasuk dalam kelompok ini ialah Imam al-Thabary yang menjadi sorotan dan obyek kajian dari kitab ini, yaitu kitabnya yang sangat populer itu Tarikh al-Rusul wa al-Muluk yang biasa disingkat dengan nama Tarikh al-Thabary.

Bila penulis sejarah (mu’arrikh) terbagi dalam beberapa kelompok, maka narasumber (ikhbari)pun demikian halnya. Ada ikhbari yang tsiqah (sangat terpercaya). Ada yang shaduq (jujur, dapat diterima). Ada ikhbari yang sering keliru dalam menyampaikan berita. Ada ikhbari yang pembohong. Bahkan ada ikhbari yang suka memalsukan berita. Sama halnya seperti hadits Nabi saw.

Ikhbari yang tsiqah hanya menyampaikan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi ikhbari yang tidak jujur, pembohong, pemalsu dan ahli bid`ah berani memalsukan berita yang tak pernah terjadi, atau membumbu-bumbui cerita yang ada.

Kenapa ahli hadits tidak mencurahkan perhatian pada kritik sejarah sebagaimana besarnya perhatian yang mereka tujukan kepada kritik Hadits? Pertanyaan seperti ini sangat wajar muncul, mengingat dampak dari penyimpangan sejarah tidak sederhana. Tidak sedikit umat Islam yang tersesat akibat menerima informasi sejarah yang tidak akurat. Tapi perlu diingat bahwa dahulu, kebutuhan orang pada pemurnian sejarah tidaklah mendesak seperti sekarang. Jadi wajar saja bila ahli hadits dahulu tidak menyibukkan dirinya dengan persoalan sterilisasi sejarah yang saat itu bukan persoalan mendesak. Sementara tugas yang lebih menantang di depan mereka menuntut untuk diselesaikan yakni pemeliharaan terhadap hadits Nabi [saw]. Dahulu masyarakat muslim mengetahui betul apa yang terjadi di kalangan sahabat. Watak persengketaan yang menyebabkan perang itupun diketahui umat Islam, apa penyebabnya dan siapa yang menggerakkan huru-hara itu. Bahkan mereka cerdas betul memilah kitab-kitab sejarah mana yang laik dipercaya dan mana yang tidak laik dibaca. Tapi kondisi umat Islam sekarang, jauh berbeda dengan kualitas mereka waktu itu. Sekarang, para pembaca sudah tidak memiliki daya detektor yang kuat untuk memilah mana informasi yang laik pakai dan mana yang harus dibuang ke keranjang sampah. Saking lemahnya sikap kritis itu, mereka banyak menerima sajian informasi dari orang-orang di luar mereka yang memburuk-burukkan pendahulu-pendahulu mereka, tanpa melakukan telaah ulang atau paling tidak umpamanya sikap reserve, sebelum dilakukan penelitian yang lebih mendalam. Aneh, mereka lebih percaya kepada cerita orang yang tidak dikenal identitasnya dari (pada) informasi al-Qur’an yang telah dipastikan kebenarannya.

Gara-gara menerima informasi sejarah dari sumber yang tidak bertanggungjawab mengakibatkan mereka menjadi ‘korban sejarah’. Mereka ikut-ikutan berasumsi buruk dan mencerca habis-habisan para sahabat Rasul yang telah berjuang mati-matian membela agama Allah [swt]. Tidak sedikit pula dari mereka yang terperangkap dalam doktrin ‘ahli bid`ah’ yang mengkultuskan keluarga `Ali [ra] dan meratapi penderitaan mereka. Padahal antara `Ali dengan Mu`awiyah tidak ada persoalan yang prinsip. Antara `Ali dengan `Utsman terdapat hubungan persaudaraan yang sangat erat. Itu semua gara-gara membaca sejarah yang telah mengalami distorsi.

Persamaan Kondisi Indonesia dengan fitnah kubro

Bila kita mengamati dengan seksama peristiwa huru-hara pada masa kekhalifahan `Utsman yang berujung pada pembunuhan khalifah ketiga itu, dan berlanjut pada masa `Ali [ra] dengan ‘perang jamal’ dan ‘perang shiffin’nya, lalu kita kaitkan dengan konteks politik kita dewasa ini, akan terlihat adanya kemiripan dalam beberapa hal.

Pertama, adanya otak kerusuhan, atau lebih populer dengan istilah ‘aktor intelektual’-nya. Dalam peristiwa fitnah, aktor intelektualnya sudah terbongkar yaitu `Abdullah Ibnu Saba’, seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Dialah yang merancang skenario huru-hara sejak pemerintahan `Utsman hingga ke masa `Ali. Sejak Ibnu Saba’ masuk Islam, keadaan umat Islam tidak kunjung aman. Dia keluar masuk negeri-negeri Islam untuk menyebar fitnah, sekaligus mencari dukungan dan melakukan pengkaderan terhadap penduduk setempat yang sevisi dengannya. Setiap kali terbongkar kedoknya, dia diusir oleh penduduk setempat dan pindah lagi ke negeri lain. Dari Yaman, ke Iraq, lalu ke Syam dan terakhir bermukim di Mesir. Sulit dibayangkan massa memberontak dari Mesir dan Kufah terhadap Khalifah `Utsman yang tinggal di Madinah dalam waktu yang bersamaan tanpa ada suatu skenario atau makar yang telah dipersiapkan secara matang. Wilayah-wilayah yang memberontak kepada pemerintah pusat seluruhnya mempunyai isu dan tuntutan yang serupa dan kesemuanya wilayah yang pernah didiami oleh Ibnu Saba’.

Dengan sangat mudah dibuktikan adanya tangan-tangan yang bermain di balik persoalan `Utsman, umpamanya, ketika rombongan warga Mesir yang datang ke Madinah lantaran terprovokasi oleh Sabaisme. Semula mereka ingin melakukan kudeta terhadap `Utsman, namun ketika bertemu dengan sang Khalifah, apa yang mereka dengar dari provokator ternyata tidak benar dan tidak terbukti. Dalam perjalanan pulang, mereka di tengah perjalanan, tiba-tiba dihadang oleh seseorang yang mengenderai kuda. Orang itu berpenampilan aneh dan mencurigakan. Sebentar muncul dan mendahului rombongan, kemudian menghilang. Lalu muncul lagi kemudian menghilang. Ketika digrebek oleh rombongan, dia mengaku sebagai utusan Khalifah yang membawa sepucuk surat yang ada tanda tangan dan stempel Khalifah `Utsman kepada gubernurnya di Mesir agar membunuh atau memotong tangan dan kaki rombongan ini sesampainya mereka nanti di Mesir.

Mereka mengambil surat itu, lalu mereka kembali menuju Madinah. Mereka mendatangi `Ali, dan berkata kepadanya: Apakah Anda tidak melihat musuh Allah? Dia telah menulis tentang kami begini dan begitu, sesungguhnya Allah telah menghalalkan darahnya, maka ikutlah bersama kami menghadapinya. `Ali menjawab: Demi Allah, aku tidak ikut dengan kalian. Mereka bertanya: Lalu mengapa Anda menyurati kami. `Ali menjawab: “Demi Allah, aku sama sekali tidak menulis surat kepada kalian. Maka mereka pun saling memandang satu sama lain, dan sebagian berkata kepada lainnya: Untuk inikah kalian bertengkar dan saling murka? Lalu `Ali pergi meninggalkan Madinah ke suatu desa. Mereka pun pergi mendatangi `Utsman dan mengatakan: Engkau telah menulis tentang kami begini dan begitu. `Utsman pun menjawab : “ada dua pilihan, memilih dua orang di antara kaum Muslimin atau aku bersumpah demi Allah yang tiada tuhan selain Dia: aku tidak menulis, tidak mendikte, dan juga tidak mengajari orang menulis. Surat itu mungkin ditulis oleh seseorang dengan cap tanda tangan palsu”. Mereka menjawab: “Allah telah menghalalkan darahmu karena engkau telah merusak perjanjian (sumpah setia kita)”. Maka mereka mengepung `Utsman [ra] di rumah kediamannya.

Beginilah caranya provokator membangkitkan emosi massa agar melakukan tindakan brutal terhadap pemerintahnya. Sebuah tindakan yang halus dan sepintas lalu meyakinkan, namun setelah diselidiki, sama sekali tidak benar.

Kedua, kemiripannya dalam menggunakan provokator. Dalam melancarkan operasinya, sudah barang tentu Ibnu Saba’ tidak sendirian. Dia punya tenaga-tenaga SDM yang terlatih, kader, pembantu-pembantu dan jaringan yang siap melaksanakan perintah-perintah yang dia keluarkan. Tampaknya setiap wilayah Islam ketika itu mempunyai provokator-provokator yang telah dikader oleh Ibnu Saba’. Mereka kebanyakannya adalah mantan-mantan budak (mawali) yang menjadi tawanan perang. Mereka masuk Islam hanya sebagai siasat belaka untuk mencari payung pengaman. Selanjutnya mengatur rencana dan strategi menghancurkan Islam dari dalam. Mereka sudah diajari cara-cara menimbulkan keresahan, kemudian kerusuhan dan memancing amuk massa dan menciptakan keadaan huru-hara. Isu-isu yang potensial untuk ditunggangi. Sudah barangtentu menggunakan cara-cara licik dan kotor serta berbau fitnah. Waktu itu isu yang mereka lontarkan adalah ‘kebobrokan’ pemerintah. Mereka menuduh `Utsman bersikap nepotisme dalam mengangkat gubernur-gubernurnya di wilayah-wilayah. Ada pula isu pembagian harta ghanimah (rampasan perang) yang tidak adil. Ada isu penggantian sahabat-sahabat senior dan digantikan oleh orang-orang muda. Kesemua isu-isu tersebut sudah tentu dibuat-buat dan tidak berdasarkan fakta yang meyakinkan. Semua tuduhan itu pernah ditangkis oleh `Utsman dalam berbagai dialog terbuka dengan mereka dan mereka mengakuinya. Tetapi, dasarnya provokator, hanya semata-mata memanfaatkan isu-isu yang bisa membangkitkan emosi massa yang terdiri dari masyarakat pinggiran dan berekonomi lemah yang sangat gampang untuk disulut.

Bila diamati secara garis besar, pihak-pihak yang melancarkan aksi huru-hara dalam sejarah Islam terdiri daru dua kelompok besar; yaitu (1) orang-orang Yahudi dan, (2) orang-orang Persia, yang masuk Islam karena mereka kalah perang. Mereka masuk Islam dengan menyimpan dendam, karena kerajaan mereka yang begitu megah dan luar biasa besar hancur porak poranda ketika berhadapan dengan pasukan Islam. Kaum Yahudi terusir dari Jazirah `Arabia sejak masa Nabi [saw]. Sedangkan orang-orang Persia merasa dendam, karena kekuasaan Imperium Persia yang megah itu ambruk selama pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin, khususnya pada masa Abu Bakar, `Umar [ra], dan awal pemerintahan `Utsman.

Ibnu Saba’ sendiri adalah orang Yahudi dari Yaman. Sangat mencurigakan, dia baru masuk Islam setelah masa `Utsman. Padahal dia hidup sejak zaman Rasulullah [saw], Abu Bakar dan `Umar. Apa gerangan kenapa dia tidak masuk Islam sebelum `Utsman dan baru masuk Islam pada masa `Utsman? Ini mengundang tandatanya besar. Kuat dugaan, dia tidak masuk Islam pada zaman Rasul, karena soliditas kaum muslimin sangat kuat, sehingga dia akan merasa kesulitan untuk melancarkan aksi-aksinya. Demikian juga semasa dua khalifah pertama. Dia menunggu sampai kondisi umat Islam sedikit mencair, dan pemimpin umat orang yang berwatak relatif lunak, toleran dan lembut. Dan itu ada pada `Utsman. Ia tidak berani dengan `Umar, karena `Umar berwatak keras dan tidak kenal basa-basi dengan provokator.

Ketiga, kemiripan dalam sasaran (obyek) provokasi, yaitu orang-orang yang hidup dalam kondisi susah dan terjepit serta kaum pengangguran. Dulupun -pada masa `Utsman- yang jadi sasaran provokasi itu adalah kaum pinggiran yang hidup susah. Mereka ini karena terjepit oleh kondisi ekonomi, gampang dibakar emosinya. Dan dulu, mereka adalah orang-orang badui yang mempunyai tempramen kasar, nekad, tidak mengenal basa-basi dan berpikir pragmatis/pendek. Mereka tidak biasa berfikir rasional, tenang dan berbuat dengan suatu perencanaan. Apalagi keinginan menyelidiki benar tidaknya isu yang mereka terima. Ini sangat jauh dalam logika mereka. Begitu mereka dibakar oleh provokator dengan isu-isu yang sepintas lalu masuk akal mereka yang singkat, mereka langsung terprovokasi dan mengambil tindakan dan jalan pintas.

Dari nuktah-nuktah di atas dapat kita lihat kemiripan-kemiripan antara kondisi yang tidak stabil di negeri ini dari 1997 hingga sekarang, dengan kondisi masa lalu pada masa `Utsman. Bedanya yang sangat menonjol, ialah kalau pada masa `Utsman, kebobrokan pemerintah itu hanya semata-mata isu yang tidak dapat dibuktikan, sementara kebobrokan pemerintah orde baru sangat gampang untuk dibuktikan(1).

Dorongan yang sangat kuat bagi saya untuk menerjemahkan kitab ini adalah iklim ilmiah yang saya hadapi ketika mengajar di Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah. Sebagian besar mahasiswa telah termakan oleh sejarah yang distortif. Pandangan mereka terhadap salah satu pemeran sejarah sudah demikian suram. Bahkan mereka tidak merasa sungkan melecehkan Mu`awiyah Ibn Abi Sufyan dan `Amru Ibn al-`Ash dan sahabat-sahabat lainnya. Bahkan menuduh sahabat yang mulia itu sebagai orang yang haus kekuasaan. Sungguh pekerjaan saya meluruskan pikiran orang yang menjadi ‘korban sejarah’ amat berat. Karena konsepsi ini sudah mereka warisi ketika mereka duduk di program S1 dan dimatangkan lagi ketika mereka di S2 dan S3. Bahkan ada di antara mereka yang sudah berpikiran beku. Jika persoalan fitnah ini dijelaskan kepada mereka secara proporsional, mereka balik menuduh, sikap itu adalah a-historis. Padahal mereka yang menjadi ‘korban sejarah’, gara-gara tidak membaca sejarah dari sumbernya yang akurat (2). Mereka hanya menelan bulat-bulat ide dan keterangan dari dosen sejarahnya yang mengalami nasib serupa. Namun di sana masih ada secercah harapan untuk mengajak calon-calon intelektual di masa depan, untuk berfikir lebih jernih, rasional dan proporsional (3).

Besar harapan kitab ini dapat menjawab tandatanya-tandatanya yang selama ini mengganjal dalam pikiran banyak peneliti dan pemerhati sejarah. Kitab ini pada awalnya merupakan disertasi ‘doktor’ dari sdr. Muhammad Amhazun, seorang peneliti dari Universitas Muhammad al-Khamis di Maghrib. Pengalaman beliau dalam kajian sejarah dan penguasaan beliau terhadap ilmu-ilmu dasar Islam semakin menambah kepercayaan kita akan bobot kitab ini.

Akhirnya, penerjemahan kitab ini dapat rampung berkat bantuan beberapa mahasiswa di Pascasarjana IAIN Jakarta, khususnya para mahasiswa yang saya bimbing dalam mata kuliah ‘Ilmu Hadits’, yang ikut menyumbangkan tenaganya dalam menerjemah. Mereka antara lain: sdr. Dr. Lahmuddin Nasution, sdr. Aminullah al-Hady, sdr. Muhammad Nu`man, sdr. Muradi, sdr. Wawan, sdr. Muhbib, dan lain-lain. Semoga Allah menerima amal baik mereka dan memberikan ganjaran yang berlipat ganda, amin.

Hadanallahu wa Iyyakum, Wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KATA PENGANTAR DR. DAUD RASYID, M.A DALAM BUKUNYA

=============================

Pemilik Blog mengomentari :

(1) Maka dari itu harus belajar dari sejarah, janganlah mudah terprovokasi untuk keluar menjelek – jelekan penguasa apalagi sampai menjadikan bahwa penguasa ini adalah kufur sehingga boleh diperangi dengan membuat huru – hara seperti yang dilakukan kelompok khawarij.

(2) Yaitu sejarah yang dibuat oleh sekelompok Orientalis yang tentu saja atas prakarsa kaum Yahudi dan kelompok yang meneruskan cita-cita Persia Raya yang diwakili kaum Syiah.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 12, 2008 in tulas -tulis

 

One response to “Fitnah Kubro, Klarifikasi Sikap serta Analisis Historis dalam Perspektif Ahli Hadits dan Imam Ath-Thabary

  1. masyhudi

    April 7, 2011 at 1:20 pm

    terima kasih. …belum menyertakan watak bangsa arab sebelum islam, mereka memang suka berperang antar suku.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s