RSS

Kasih Sayang antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi (2)

04 Nov

HUBUNGAN PERNIKAHAN

Pembaca budiman, belahan hati Anda, putri Anda, akan Anda serahkan kepada siapa? Relakah Anda jika putri Anda menikah dengan seorang penjahat? Atau menikah dengan seorang penjahat yang membunuh ibu dan saudaranya sendiri? Apa makna kata ipar dan keluarga bagi Anda? Istilah “al-Mushaharah” menurut tata bahasa Arab; berasal dari kata “Shaahara”.

Dikatakan “Shaahartu al Qoum” (saya menjadikan mereka ipar), manakala saya menikahi seseorang dari mereka. Al-Azhari menjelaskan: Kata “ashshihru” mengandung makna kerabat dekat wanita yang berstatus muhrim, dan juga para wanita yang masih berstatus muhrim. Seperti kedua orang tua dan saudara-saudara perempuan…dst. Sebaliknya, kerabat dekat yang menjadi muhrim bagi suami adalah ipar (ashshihru) wanita tersebut.”

Dengan begitu, ipar seorang lelaki, adalah kerabat istrinya, dan ipar seorang wanita adalah kerabat suaminya. Kesimpulannya “periparan” atau masalah hubungan ipar menurut bahasa adalah kerabat dari pihak wanita. Meskipun kadang diterapkan juga pada pihak kerabat pihak lelaki. Allah SWT telah menjadikan hal itu sebagai bagian tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan ipar) dan Tuhanmu adalah Maha Kuasa.” (QS: Al-Furqaan 54).

Renungkanlah kandungan ayat tersebut. Manusia yang berstatus sebagai “seseorang” dijadikan Allah bertalian dengan orang lain melalui keturunan dan periparan (mushaharah). Jadi mushaharah merupakan pertalian syar’i yang telah dijadikan Allah sebagai pendamping kata “keturunan”. Sedang keturunan
“nasab”, artinya kerabat pihak ayah. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa “nasab”, dimaksudkan kerabat. Sebagaimana sudah dijelaskan, bahwa Allah mendampingkan antara kata “nasab” dan “mushaharah”. Hal ini mengandung beberapa perkara yang sangat penting. Sehingga kita tidak boleh melupakannya.

PERIPARAN DAN SEJARAHNYA

Di kalangan masyarakat Arab, periparan mempunyai posisi istimewa. Mereka sangat berbangga dengan bapak-bapak dan keturunan. Dari situ mereka pun merasa bangga atas suami putri-putri mereka dan kedudukan mereka. Orang Arab tidak akan menikahkan putrid mereka dengan orang-orang yang mereka pandang berderajat rendah. Hal ini lazim di kalangan mereka. Bahkan pandangan seperti itu juga terdapat pada bangsa-bangsa lain. Perbedaan etnis sampai masa sekarang pun masih merupakan kendala sosial di Barat.

Orang-orang Arab sedemikian cemburu terhadap para wanita mereka. Sehingga mendorong sebagian dari mereka memingit (menjaga atau disimpan) gadis-gadis mereka yang masih kecil, lantaran takut terkena malu. Bahkan seringkali terjadi pertumpahan darah dan timbul berbagai peperangan sebagai dampak dari hal-hal seperti itu. Ini merupakan suatu sinyal yang tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar. Kesan seperti itu masih tetap berlaku sampai sekarang, sebagaimana Anda maklum.

HUBUNGAN PERNIKAHAN DI DALAM ISLAM

Islam datang dan menerapkan nilai-nilai budi luhur serta sifat-sifat terpuji. Islam melarang sikap-sikap buruk. Allah SWT menjelaskan, bahwa standar ukuran kemuliaan adalah “takwa”. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS: Al-Hujurat 13).

Ini menurut neraca syariat !!

Anda pun bisa mendapati para ahli fikih rahimahumullah membahas persoalan “al-Kafaa’ah” (kesepadanan)—berkaitan dengan agama, keturunan, bakat kemampuan, dan hal-hal terkait melalui pembahasan panjang.

Mereka membahas tentang apakah kesepadanan itu merupakan syarat bagi sahnya suatu akad nikah atau keharusan? Apakah itu merupakan hak bagi pihak istri ataukah melibatkan para wali? Dan sebagainya dalam pembahasan mereka seputar masalah pernikahan.

Mengenai menjaga kehormatan wanita, maka sebenarnya Nabi SAW menetapkan status syahid bagi orang yang berjuang mempertahankan kehormatannya. Beliau sendiri pernah menyiapkan peperangan demi seorang wanita yang dipermainkan penutup auratnya oleh seorang Yahudi. Kisah itu sudah populer berkaitan pelanggaran yang dilakukan bani Qainuqa’ atas janji antara mereka dengan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam.

Dikisahkan, seorang Yahudi meminta kepada seorang muslimah yang hendak membeli emas kepadanya agar ia bersedia membuka cadarnya. Tetapi muslimah itu menolak. Lalu Yahudi itu mengikat tepi baju gadis itu ketika ia sedang duduk tanpa sepengetahuannya. Tatkala muslimah itu berdiri, terbukalah pakaiannya. Lalu muslimah itu berteriak-teriak meminta tolong. Ketika itu di dekatnya ada seorang pemuda muslim. Ia pun segera menyerang Yahudi itu dan membunuhnya. Kemudian orang-orang Yahudi bersatu padu menyerangnya dan membunuh pemuda itu. Peristiwa ini hanya sebuah bukti yang menunjukkan mereka telah melanggar perjanjian mereka dengan Nabi, juga ada peristiwa lain yang menunjukkan pelanggaran atas janji mereka.

Pembaca budiman… perhatikanlah beberapa hukum syariat seperti dipersyaratkannya wali di dalam suatu akad nikah dan adanya saksi.

Perhatikan pula hukuman bagi orang yang menuduh orang berzina, hukuman kepada orang yang berzina, dan hukum-hukum lain sejenis yang semuanya bertujuan menjaga kehormatan. Dengan mencermati adanya hukum-hukum tersebut beserta segala yang terkait, baik berupa hukum, atsar, dan hal-hal yang bersifat syar’i, niscaya akan jelas bagi Anda betapa penting persoalan ini.

Persoalan pernikahan berkaitan dengan banyak hukum. Pikirkanlah ketetapan “nash” tentang akad nikah (al-miitsaaq al-ghaliidh: janji nan teguh) yang dinyatakan oleh seorang lelaki di dalam meminang. Ini pun mengandung banyak hukum-hukum. Bahkan adakalanya suatu pinangan bisa diterima juga bisa ditolak. Sehingga adakalanya orang yang hendak melamar meminta bantuan kepada keluarga atau sahabat-sahabatnya agar bisa memperoleh persetujuan. Lalu ia pun meminta kepada keluarga pihak perempuan untuk meminang si perempuan. Pihak perempuan memiliki hak untuk menerima atau menolaknya. Bahkan sekali pun ia sudah memberi hadiah-hadiah atau menyegerakan maskawin dan sebagainya, mereka masih berhak untuk menolak lamaran tersebut selama akad nikah belum terjalin.

Akad nikah harus melibatkan para saksi. Menyebarluaskan rencana pernikahan juga merupakan tuntutan syariat. Untuk apa? Sebab, melalui suatu pernikahan akan muncul hukum-hukum baru. Yaitu mendekatkan hubungan yang jauh lalu menjadikan masing-masing “periparan” (hubungan ipar). Pernikahan ini mengakibatkan suami haram menikahi beberapa wanita selamanya seperti ibu sang istri, atau selama dia menjadi suami sang istri seperti adik perempuan sang istri. Tetapi tujuan risalah ini bukan membahas panjang lebar soal ini, semata-mata tujuannya untuk menekankan keseriusan persoalannya untuk penjelaskan selanjutnya. Sekarang renungkanlah penjelasan berikut:

Contoh pertama:
Saudara perempuan Hasan dan Husein (putri Fatimah) dinikahkan oleh bapaknya (alaihimussalam ajma’in) kepada Umar bin Khathab r.a. Dapatkah kita katakan, bahwa Ali a.s. menikahkan putrinya atas dasar takut kepada Umar? Manakah keberanian Ali ? Mana pulakah rasa sayang beliau kepada putrinya? Mungkinkah beliau akan menyerahkan putri beliau kepada orang zhalim? Manakah sikap kecemburuan beliau kepada agama Allah?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tiada pernah berakhir. Atau Anda katakan, bahwa Ali a.s. menikahkan putri beliau (Ummu Kultsum) kepada Umar atas dasar cinta kepada Umar dan senang kepada beliau.

Memang Umar telah menikah dengan putri (cucu) Rasulullah SAW dengan pernikahan yang sah1. Pernikahan ini membuktikan adanya jalinan kasih sayang antara dua keluarga ini. Betapa tidak, bahkan Rasulullah SAW sendiri menikah dengan putri Umar. Dengan begitu hubungan ini telah terjalin erat di antara dua keluarga sebelum pernikahan Umar dengan Ummu Kultsum (binti Ali alaihimussalam -pent).

Contoh kedua:
Cukuplah kiranya pernyataan Imam Ja’far ash Shadiq a.s. yang menyatakan:
“Saya dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali!”

Tahukah Anda siapakah ibu Ja’far? Beliau bernama Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar2.

Wahai para cerdik pandai: Mengapa Ja’far a.s. menyebut nama Abu Bakar, dan tidak menyebut Muhammad bin Abu Bakar? Memang, beliau terang-terangan menyebut nama Abu Bakar karena sebagian orang Syi’ah mengingkari keutamaan beliau. Sedang putra beliau Muhammad, Syi’ah sepakat atas keutamaannya. Sekarang bagaimana menurut Anda, dengan siapa seseorang berbangga?

Pembaca budiman… Hubungan pernikahan antara para sahabat Muhajirin dan Anshar sudah jelas terjadi dan diketahui oleh para penelaah nasab. Bahkan dari kalangan mereka yang budak. Benar! Bahkan budak-budak itu menikah dengan para bangsawan (Sayyid) Quraisy. Contohnya; Zaid bin Haritsah r.a. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang disebut namanya di dalam al Quran, yaitu di dalam Surat al Ahzab. Siapakah kiranya istri beliau? Istri beliau adalah Ummul Mukminin Zainab binti Jahasy (jelasnya; sebelum menjadi Ummul Mukminin -pent)

Dan ini, Usamah bin Zaid, beliau dinikahkan oleh Rasulullah shalallaahu’alaihi wa aalihi wa sallam dengan Fathimah binti Qais. Sedang Fathimah adalah wanita Quraisy3 Salim, seorang budak, dinikahkan oleh Hudzaifah radhiyallahu’anhum dengan putri saudaranya. Wanita yang bernama Hindun binti Walid bin Utbah bin Rabi’ah. Sedang ayah Hindun adalah salah seorang pemuka Quraisy3.

Pembahasan tentang periparan antara sahabat akan sangat panjang. Kita cukupkan dengan beberapa contoh saja yang mengisahkan pernikahan antara Ahlul Bait dengan Khulafa’ ar-Rasyidiin.

Tahukah Anda, bahwa Umar r.a. menikah dengan putri Fathimah putri Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Begitu pula Ja’far ash-Shadiq a.s. sebagaimana telah dijelaskan, siapakah nenek beliau? Keduanya adalah cucu Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.

Pembaca budiman… Buanglah bisikan setan dari diri Anda. Hendaklah Anda memikirkannya sungguh-sungguh dan mendalam, sebab Anda adalah seorang muslim. Anda pasti memahami kedudukan akal. Sedang ayat-ayat al Quran yang menganjurkan agar Anda menelaah dan berpikir sangat banyak.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memikirkannya dengan akal pikiran kita. Hendaklah kita tinggalkan sikap ikut-ikutan dan taklid buta. Waspadalah agar orang-orang iseng tidak mempermainkan akal pikiran kita. Kami berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan, baik dari kalangan manusia maupun dari jin.

Pembaca tercinta… Relakah Anda jika kakek-kakek Anda dimaki-maki. Relakah Anda jika dikatakan, bahwa wanita kaum anda yang paling terhormat telah menikah di bawah tekanan. Sedangkan itu terjadi di hadapan keluarga Anda seluruhnya sedang mereka diam? Relakah Anda manakala dikatakan bahwa hal itu sebagai perempuan kami yang dirampas? Sungguh masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang tiada berakhir.

Akal siapakah yang akan rela dengan ucapan keji seperti itu? Hati siapakah yang dapat menerima riwayat seperti itu?

Kami mohon kepada Allah, semoga tidak menjadikan ke dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman. Wahai Allah, karuniai kami rasa sayang kepada orang-orang shalih dari kalangan hamba-hamba-Mu seluruhnya. Wahai Allah kabulkanlah kiranya, wahai Penguasa semesta alam.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan ketiga, akan kami sajikan riwayat dari kitab-kitab Syi’ah yang dijadikan sandaran (mu’tamad) di kalangan orang-orang Syiah dan kalangan ulama mereka sendiri. Ulama Syiah menetapkan kebenaran riwayat pernikahan Umar dengan Ummu Kultsum binti Ali (semoga Allah meridhai keduanya).

Imam Shafiyuddin Muhammad bin Tajuddin (yang dikenal dengan Ibnu ath-Thaqthaqi Al Hasani; wafat 709 H) bergelar pakar sejarah dan imam. Di dalam kitabnya yang dihadiahkan kepada Ashiluddin Hasan bin Nashiruddin ath-Thusi, teman dekat si “Hulagu”, Ia memberi nama kitab tersebut dengan namanya. Di dalamnya menjelaskan putri-putri Amirul Mukminin Ali a.s.

Dalam penjelasannya, ia menyebutkan: “Dan Ummu Kultsum, ibunya adalah Fathimah binti Rasulullah. Ia dinikahi Umar bin Khathab dan melahirkan putra bernama Zaid. Sepeninggal Umar Ummu Kultsum menikah dengan Abdullah bin Ja’far (pada halaman 58).”

Perhatikan juga pernyataan Muhaqqiq a.s Sayyid Mahdi ar Raja’i. Di situ ia mengutip berbagai pernyataan. Juga terdapat penegasan (tahqiiq) dari Alamah Abul Hasan Al ‘Umari yang berasal dari Umar bin Ali bin Husein di dalam kitabnya berjudul “Al Majdi”.

Ia menjelaskan: “Kesimpulan yang dapat diambil dari riwayat-riwayat yang kami telaah tadi ialah Abbas bin Abdul Muthalib telah menikahkannya dengan Umar melalui kerelaan ayahnya a.s. dan atas seizinnya. Umar dan Fatimah memiliki seorang putra yang diberi nama Zaid.”

Muhaqqiq tersebut juga menjelaskan berbagai pendapat, di antaranya riwayat riwayat yang menyatakan: “Bahwa sebenarnya yang dinikahi Umar adalah setan yang berubah bentuk menjadi seorang wanita”. Atau menyatakan “bahwa beliau belum menggaulinya.” Atau menyatakan “bahwa dia menikahinya dengan memaksa dan merampas” dan seterusnya.

Alamah Majlisi mengatakan: “… seperti itulah, Al Mufid mengingkari bahwa hal ini terjadi.” Maksudnya adalah menjelaskan bahwa riwayat itu tidak kuat dari jalur mereka. Jika tidak demikian, maka sesudah terdapat riwayat-riwayat seperti itu dan riwayat-riwayat –yang akan kami sebutkan– dengan sanad sanadnya yang menyatakan; “bahwa Ali a.s., tatkala Umar wafat, beliau pergi menuju rumah Ummu Kultsum, lalu membawanya pulang.” Dan riwayat riwayat yang serupa, sebagaimana dinyatakan di dalam kitab “Bihaarul Anwaar.”. Suatu penolakan yang ganjil. Maka paling tepat kita katakan bahwa peristiwa itu terjadi karena taqiyah dan terpaksa …, dst.” (Juz 2; hal. 45; dari kitab “Mir’atul ‘Uquul”).

Menurut pendapat kami: “Bahkan dijelaskan oleh pengarang kitab Al Kaafi, dan di berbagai hadits-hadits dalam kitabnya, di antaranya; bab Al Mutawaffa ‘anha zaujuhaa alMadkhuul bihaa aina ta’taddu wa maa yajib ‘alaihaa, dinyatakan; “bahwa Humaid bin Ziyad dari Ibnu Sama’ah, dari Muhammad bin Ziyad, dari Abdullah bin Sinan dan Mu’awiyah bin ‘Ammar, dari Abi Abdillah a.s., ia berkata: “Saya bertanya tentang wanita yang ditinggal mati suaminya, adakah ia melaksanakan iddah di rumah sendiri atau sekehendak hatinya?” Beliau menjawab: “Sekehendak hatinya”. Sebab, Ali a.s. ketika Umar wafat, beliau datang kepada Ummu Kultsum dan membawanya pulang ke rumahnya.” (Bacalah: Furuu’; dari kitab “Al Kaafi”; juz 6; hal. 115).

Pembaca budiman… Saya pernah membincangkan masalah ini dengan ulama Syi’ah yang hidup saat ini. Di antara jawaban yang paling bagus adalah apa yang dituliskan oleh Hakim Mahkamah Wakaf dan Waris, yaitu Syeikh Abdul Hamid Al Khathi.

Beliau mengatakan sebagai berikut: “Adapun Ali a.s. yang menikahkan salah seorang pahlawan Islam dengan putri beliau Ummu Kultsum, maka itu bukan hal yang tercela. Beliau meneladani teladan baik Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam yang menjadi contoh bagi setiap muslim. Bahkan Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallama telah menikah dengan Ummu Habibah radhliyallahu ‘anha binti Abu Sufyan. Sedang Abu Sufyan tidaklah seperti Umar bin Khathab r.a. Seluruh keraguan atas peristiwa ini tidak dapat diterima”.

Adapun pendapat kalian… “bahwa setan telah menjelma kepada Khalifah Umar bin Khathab r.a., menjadi seperti Ummu Kultsum”, maka pendapat ini adalah pendapat yang menggelikan sekaligus menyedihkan.

Tidak layak untuk diutarakan dan tidak ada dasarnya. Sekiranya kita meneliti riwayat-riwayat dusta seperti ini, niscaya kita akan mendapati hal-hal yang menggelikan sekaligus membuat kita menangis.

Tapi Syeikh tersebut tidak menyinggung masalah yang sedang kita bahas kali ini. Artinya bahwa periparan merupakan bukti ikatan kekeluargaan. Sehingga hal itu tidak mungkin dapat terwujud, kecuali atas dasar rasa suka. Dan juga merupakan bukti rasa cinta, persaudaraan, serta ikatan di antara mereka.

Anda pun tentu memaklumi wahai pembaca budiman, bahwa pernikahan seorang muslim (laki-laki) dengan wanita Ahli Kitab diperbolehkan. Sedang pernikahan seorang lelaki Ahli Kitab dengan seorang wanita muslimah dilarang.

Renungkanlah hal itu!

KESIMPULAN

Hubungan Pernikahan di antara sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam sangatlah jelas keberadaannya. Terlebih-lebih antara anakcucu Imam Ali a.s. dengan keturunan Khulafa’ ar-Rasyidin radhiyallahu ‘anhum.

Demikian pula hubungan pernikahan antara Bani Umayah dengan Bani Hasyim sejak sebelum munculnya Islam. Yang paling terkenal adalah pernikahan antara Rasulullah SAW dengan putri Abu Sufyan radhliyallahu
ajma’in.

Yang menjadi tujuan penjelasan kami di sini, ialah sebagai isyarat tentang kesan kejiwaan dan kesan sosial yang mendalam dari hubungan perkawinan tersebut., yaitu terjalinnya rasa kasih sayang di antara kedua belah pihak.

Lebih dari itu, kesannya masih banyak lagi. Semoga dengan keterangan di atas sudah cukup.

———————————-

1 Berikut nanti akan kami jelaskan kutipan-kutipan dari ulama Syi’ah yang mengakui pernikahan ini, dan juga mereka yang menolaknya dengan berbagai tuduhan-tuduhan.

2 Sedang ibunya bernama Asma’ binti Abdur Rahman bin Abu Bakar. Silahkan baca “‘Umdatu ath-Thaalibiin”; hal. 195; edisi Dahran. Juga “Al Kaafi”; juz 1; hal. 472.

3 Riwayat Muslim; bab tentang Fathimah binti Qais radhliyallahu ‘anha.

3 Al Bukhari; bab tentang Aisyah radhliyallahu ‘anha.

Terkait : Kasih Sayang antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi (1)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2008 in Firaq

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s