RSS

Kasih Sayang antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi (1)

04 Nov

MAKNA NAMA

Nama seseorang selalu mencerminkan dirinya. Nama merupakan pembeda,yang membedakan seseorang dengan orang lain. Hal ini berlaku bagi seluruh manusia. Orang yang berakal tidak pernah ragu akan pentingnya nama. Sebab,melalui nama orang akan dikenal dan dibedakan dari saudara-saudaranyasendiri maupun orang lain. Nama itu akan menjadi tanda bagi diri yang bersangkutan dan juga bagi putra-putrinya kelak. Seseorang pasti akan mati, sedang namanya tetap hidup sepeninggalnya.

Kata “Al Ismu” berasal dari kata “As Sumuw” yang bermakna mulia dan tinggi. Atau berasal dari kata: “Al Wasmu” yang berarti tanda. Kedua makna di atas menegaskan akan pentingnya nama bagi seseorang. Nama seseorang melambangkan agama dan juga tingkatan akalnya. Pernahkah Anda mendengar ada seorang Nashrani atau Yahudi yang memberi nama putra-putri mereka dengan nama “Muhammad” (SAW)? Ataukah ada di kalangan muslimin yang memberi nama anaknya dengan nama Lata dan Uzza, selain orang yang kurang akalnya? Seorang anak terikat dengan ayahnya melalui nama. Seseorang dipanggil dengan nama pilihan Ayah dan keluarganya. Jadi, umat manusia selalu menggunakan nama. Kata orang: “Melalui nama Anda, saya dapat mengerti bapak Anda.”1.

Pentingnya Nama dalam Islam

Dalam rangka agar mengerti pentingnya nama dalam Islam, Anda hanya cukup menyimak kisah nabi SAW yang telah mengubah nama-nama beberapa sahabatnya. Bahkan Rasulullah SAW juga mengganti nama kota beliau yang dulunya bernama “Yatsrib” menjadi “Madinah”. Beliau melarang umatnya memberi nama seseorang dengan nama “Malikul Amlak” yang berarti “Raja Diraja”, dan nama lain yang serupa. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya nama orang yang paling hina di sisi Allah adalah orang yang diberi nama raja
diraja.”

Rasululullah SAW menganjurkan pada kita agar memberi nama anak kita dengan Abdullah (hamba Allah), Abdurrahman (hamba Allah Yang Maha Pemurah), dan nama-nama sejenis. Di dalam nama-nama tersebut terkandung makna ibadah, pengabdian dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Rasulullah SAW bersabda: “Nama yang paling disukai Allah, adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Rasulullah SAW sangat suka kepada nama yang baik. Beliau berharap dengan nama baik itu akan membawa kebaikan pula. Hal itu sudah dikenal sebagai suatu ajaran dari beliau. Ulama ushul fiqh dan pakar bahasa telah sepakat bahwa nama mengandung makna tertentu. Masalah ini dan segala bahasan yang bercabang dari hal ini telah dibahas panjang lebar dalam kitab-kitab bahasa arab dan ushul fiqh.

Pembaca budiman…

Hendakanya Anda tidak terburu-buru, dan jangan heran terlebih dahulu. Mari kita lanjutkan bersama saya dan jawablah pertanyaan berikut:

  • Dengan nama apa Anda memberi nama putra Anda?
  • Apakah Anda memilih nama yang Anda sukai dan disukai ibunya, dan keluarganya?
  • Apakah Anda memberi nama putra Anda dengan nama musuh Anda?

Subhanallah!

Sudah pasti kita memilih nama bagi diri kita sendiri dengan nama-nama yang mengarah pada sesuatu yang bermakna bagi kita. Namun kenapa kita tidak dapat menerima hal ini (memberi nama yang bermakna) bagi manusiamanusia terbaik? Lalu kita katakan: “Tidak! Mereka memilih nama putra-putri mereka karena masalah politik dan sosial, tidak sebagaimana layaknya manusia biasa!” Apakah mereka tidak mengenal makna nama? Apakah nama tidak bermakna bagi mereka?

Orang-orang yang berakal sehat—para imam dan orang-orang terhormat— mereka dilarang menerapkan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka dilarang memberi nama anak mereka dengan nama-nama orang yang mereka cintai.

Mereka juga dilarang memberi nama dengan nama saudara-saudara mereka seagama sebagai wujud kecintaan dan penghargaan. Malah mereka dianggap memberi nama putra-putri mereka dengan nama-nama musuh mereka sendiri!

Dapatkah Anda mempercayai hal itu?

Agar Anda ketahui, hal ini bukan satu kebetulan yang hanya terjadi pada seorang anak, namun mereka memberi nama banyak anak mereka dengan nama-nama itu. Hal ini juga bukan saat di mana permusuhan telah terlupa. Bahkan pemberian nama itu dilakukan pada masa-masa puncak permusuhan (demikian menurut anggapan mereka).

Tapi menurut pendapat kami: “Pemberian nama-nama tersebut justru pada saat puncak rasa kasih sayang di antara mereka…”

Hal ini merupakan persoalan penting yang harus ditelaah dan diperhatikan. Sebab di dalamnya terkandung banyak fakta, makna, dan merupakan sanggahan terhadap dongeng-dongeng dan kisah-kisah khayalan. Di dalamnya juga terkandung seruan bagi jiwa dan perasaan. Di dalamnya terkandung penjelasan yang memuaskan bagi orang-orang yang berakal sehat… Sehingga tidak mungkin dapat disanggah ataupun diselewengkan maknanya.

Kesimpulan dari Pembahasan tersebut:
Penjelasan 1 s/d 3: Karena sangat cinta kepada tiga khalifah, maka Sayyidina Ali a.s. memberi nama putra-putra beliau dengan nama-nama mereka.

Yaitu: Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib. Beliau mati syahid di Karbala’ bersama saudaranya, yaitu Husein a.s.

Umar bin Ali bin Abi Thalib. Beliau ini mati syahid di Karbala’ bersama saudara beliau Husein a.s. Utsman bin Ali bin Abi Thalib. Beliau ini juga mati syahid di Karbala’ bersama saudara beliau Husein a.s.

Penjelasan 4 s/d 6: Hasan a.s. memberi nama putra-putra beliau dengan nama: Abu Bakar; Umar; dan Thalhah bin Hasan. Ketiga-tiganya mati syahid di Karbala’ bersama paman mereka Husein a.s.

Penjelasan 7: Husein a.s. memberi nama putra beliau dengan nama Umar bin Husein.

Penjelasan 8 – 9: Sang pemimpin ulama tabi’in Ali bin Husein Zainal Abidin, yaitu imam keempat (a.s.) juga memberi nama putri beliau dengan nama Aisyah. Juga memberi nama Umar, dan menurunkan keturunan bagi beliau sesudah beliau wafat.2

Demikian juga dengan para Ahlul Bait lainnya dari keturunan Abbas bin Abdul Muthalib, keturunan Ja’far bin Abi Thalib, Muslim bin Aqil, dan selain mereka. Tetapi di sini kita tidak akan menyebutkan seluruh nama-nama tersebut panjang lebar. Yang menjadi tujuan kita hanyalah untuk menjelaskan maksud, yaitu penjelasan tentang nama putra-putra Ali, Hasan, dan Husein (alahimussalam).

PERTENTANGAN

Di kalangan Syi’ah ada orang-orang yang tidak percaya bahwa Ali dan putra putri beliau (alaihimussalam) telah memberi nama putra-putri mereka dengan nama-nama tersebut. Tetapi hal ini hanya bualan orang-orang yang tidak berwawasan tentang nasab keturunan dan nama-nama. Bahkan mereka adalah termasuk orang yang bacaannya terbatas. Di samping itu alhamdulillah, jumlah mereka hanya sedikit.

Bahkan kelompok ini telah disanggah imam-imam besar serta ulama Syi’ah sendiri. Sebab bukti-bukti keberadaan nama-nama tersebut sangat jelas dari fakta yang terjadi dan keberadaan keturunan mereka. Begitu juga tercantum didalam kitab-kitab Syi’ah yang mu’tamad (dijadikan rujukan). Bahkan di dalam
riwayat-riwayat yang mengisahkan tragedi Karbala’, yang mana telah gugur Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib bersama Imam Husien. Demikian pula Abu Bakar bin al-Hasan bin Ali (alaihimussalam), yang telah kami jelaskan di atas.

Mereka telah gugur sebagai syahid bersama Husein. Bahkan hal itu dijelaskan oleh Syi’ah di dalam kitab-kitab mereka sendiri. Tetapi Anda jangan terkejut manakala Anda tidak mendengar nama-nama ini di Huseiniyyat dan perayaanperayaan hari Asyura’. Sebab, tidak disebutnya mereka itu bukan berarti mereka tidak pernah ada.

Ketika itu Umar bin Ali bin Abi Thalib dan Umar bin al-Hasan, termasuk penunggang kuda yang diakui oleh mereka sebagai orang-orang yang bertempur sekuat tenaga pada peristiwa itu.

Masalah pemberian nama oleh imam-imam alaihimussalam kepada putra-putra mereka dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, dan nama-nama para sahabat besar lainnya merupakan masalah yang tidak pernah terjawab dengan jawaban yang jelas dan memuaskan oleh Syi’ah. Sebab, tidak mungkin kita memberi nama tanpa dasar dan tanpa makna. Kita juga tidak mungkin mengangggap itu sebuah rekayasa yang engaja dibuat oleh Ahlu Sunah dan dimasukkan ke dalam kitab-kitab Syi’ah! Sebab hal ini berarti tuduhan terhadap seluruh riwayat-riwayat yang ada dalam kitab-kitab Syi’ah. Sehingga setiap riwayat yang tidak mengenakkan bagi Syi’ah, kemudian mungkin saja mereka mengatakan: “Itu adalah rekayasa, dan dusta.”

Bahkan bisa saja setiap riwayat yang tidak sesuai dengan hawa nafsu seorang ulama, lalu dengan mudah ia menolaknya seraya mengatakan: “Itu rekayasa.”! Apalagi dalam mazhab Syi’ah setiap ulama berhak menerima dan menolak riwayat tanpa ada kaidah dan patokan yang jelas.

Ada sebuah lelucon yang lucu sekaligus menyedihkan. Ada (dari kalangan mereka -pen) yang mengatakan, bahwa pemberian nama-nama dengan nama para sahabat besar tersebut, adalah untuk mencela dan mencaci maki mereka!

Ada juga yang mengatakan, bahwa pemberian nama tersebut atas dasar agar dapat merebut hati masyarakat. Sehingga imam memberi nama putra-putra mereka agar masyarakat merasa, mereka mencintai para khalifah tersebut dan ridha terhadap mereka! (–dengan kata lain mereka melakukan taqiyah) Subhanallah !!

Layakkah kita mengatakan bahwa Imam melakukan perbuatan untuk menipu pengikut mereka sendiri dan masyarakat umum? Mungkinkah sang Imam mengorbankan keturunannya sendiri demi tujuan seperti itu?

Siapakah orang yang ditakuti Imam sehingga beliau memberi nama anaknya dengan nama-nama di atas? Keberanian dan harga diri Imam akan mencegah beliau untuk menghinakan dirinya sendiri dan anak-anaknya demi menjaga perasaan Bani Taym, atau Bani ‘Ady, atau Bani Umayyah. Orang yang mempelajari sejarah para imam, niscaya ia akan mendapati kepastian bahwa para imam adalah salah satu
manusia yang paling pemberani. Tidak seperti yang kita dapati dalam banyak riwayat dusta, yang menganggap beliau pengecut, tidak memberontak demi agama, harga diri dan kehormatannya. Sayangnya, riwayat seperti ini sangatlah banyak.

Sebenarnya, apa yang telah dilakukan oleh para imam: yaitu Ali dan putra putra beliau (alaihimussalam), adalah bukti terkuat, baik secara logika, psikologis, maupun realita yang terjadi. Apa yang mereka lakukan membuktikan besarnya rasa cinta Ahlul Bait kepada Khulafa’ ar-Rasyidiin, juga kepada segenap sahabat Nabi SAW lainnya. Anda sendiri juga mengalami hal ini. Jadi, tidak ada alasan untuk menolaknya. Hal ini juga merupakan bukti kebenaran firman Allah Ta’ala:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS:Al-Fath 29).

Wahai pembaca budiman, cobalah mengulang-ulang bacaan ayat ini, renungkan maknanya, dan jangan ketinggalan renungkan juga sifat rahmat dan kasih sayang.

——————————————-

1 Silahkan baca kitab berjudul “Tasmiyatu Al Mauluud”; oleh Al Alamah asy-Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid

2 Silahkan baca kitab berjudul “Kasyful Ghummah” (2/334), “al-Fushuul al-Muhimmah”; hal. 283. Demikian pula segenap “imam-imam dua belas”, Anda akan mendapati nama-nama tersebut di dalam keturunan mereka. Masalah ini juga dibahas para ulama Syi’ah dan mereka menyebutkannya di dalam kitab berjudul “Yaumu ath-Thaff”; hal 17-185. Untuk sekedar contoh, silahkan baca “A’laamu al-Waraa” oleh ath-Thabrisi; hal. 203. Juga “al-Irsyaad”; oleh al-Mufid; hal. 186. “Taarikh al-Ya’quubi” (2/213).

Terkait : Kasih Sayang antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi (2)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2008 in Firaq

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s