RSS

Kasih sayang diantara mereka.

17 Okt

Istilah “al-Mushaharah” menurut tata bahasa Arab; berasal dari kata “Shaahara”. Dikatakan “Shaahartu al-Qoum” (saya menjadikan mereka ipar), manakala saya menikah seseorang dari mereka. Al-Azhari menjelaskan: “Kata “ash-shihru” mengandung makna “kerabat wanita yang berstatus muhrim, dan juga para wanita yang masih berstatus muhrim, seperti kedua orang tua dan saudara-saudara perempuan…., dst. Manakala sejak sebelum menikah berstatus selaku kerabat yang berstatus muhrim, maka (setelah menikah) juga disebut ipar wanita tersebut.”

Dengan begitu, ipar seorang lelaki, adalah kerabat istrinya, dan ipar seorang wanita, adalah kerabat suaminya.

Kesimpulannya “periparan” menurut etika bahasa, adalah kerabat dari pihak wanita, meskipun kadang diterapkan juga pada pihak kerabat pihak lelaki. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjadikan hal itu sebagai bagian tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (QS: Al-Furqaan 54).

Renungkanlah kandungan ayat tersebut, betapa personalian yang berstatus sebagai “seseorang” dijadikan oleh Allah bertalian dengan orang lain melalui keturunan dan periparan (mushaharah). Jadi mushaharah merupakan pertalian syar’i yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pendamping kata “keturunan”. Sedang keturunan “nasab”, artinya kerabat pihak ayah. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa “nasab”, dimak-sudkan kerabat. Sebagaimana sudah dijelaskan, bahwa Allah mendampingkan antara kata “nasab” dan “mushaharah”, di sini terkandung dalil penting. Jangan lupa hal ini.

PERIPARAN DAN SEJARAHNYA

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa aalihi was sallam dengan Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq, Hafshah binti Umar ibnul Khatab, Ramlah binti Abu Sufyan.

Ummu Kultsum binti Ali dengan Umar bin al-Khathab.

Fathimah binti al-Husein dengan Abdullah bin ‘Amru bin Utsman bin Affan.

Ummu al-Hasan binti al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib dengan Abdullah bin az-Zubeir bin al-Awwam .

Ruqayyah binti al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib dengan ‘Amru bin az-Zubeir bin al-Awwam

Al-Husein al-Ashghar bin Zainal Abidin dengan Khalidah binti Hamzah bin Mush’ab bin az-Zubeir bin al-Awwam.

Sakinah binti al-Husein dengan Mush’ab bin az-Zubeir bin al-Awwam.

Bacaan lainnya : Kasih Sayang antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi (1)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2008 in tulas -tulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s