RSS

Yang Tersisa Dari Karbala

10 Okt

Ada cerita menarik dari Karbala yang sengaja dirahasiakan oleh syi’ah, mau tahu? baca selengkapnya…

Ada bagian penting yang sering tertinggal dari sejarah Imam Husein, nampaknya bagian yang penting ini sangat jarang sekali dibahas, sehingga pembaca yang ditakdirkan melewatkan pandangannya pada tulisan kali ini sangat beruntung, karena menemukan pembahasan yang hampir belum pernah dibahas.

Kali ini pembaca akan menikmati uraian tentang anak-anak Imam Husein. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Husein adalah seorang cucu Nabi, manusia yang dicintai oleh Nabi sebagaimana kita mencintai cucunya. Bahkan konon seorang kakek lebih mencintai cucunya dari ayah si cucu yang merupakan anaknya sendiri. Kecintaan nabi kepada Imam Husein begitu besar, begitu juga kepada kakaknya yaitu Imam Hasan. Kita sebagai orang beriman yang mencintai Nabi wajib mencintai mereka yang dicintai Nabi, termasuk cucundanya yang satu ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Kakeknya. Namun kecintaan kita kepada sang Kakek haruslah lebih besar.

Waktu kemudian berlalu sehingga Muawiyah Ra mangkat dan mengangkat Yazid sebagai khalifah. Imam Husein yang enggan berbaiat kepada Yazid segera melarikan diri ke mekkah. Sesampai di mekkah penduduk kota Kufah mengirimkan surat yang jumlahnya mencapai 12000 pucuk surat, yang isinya meminta sang Imam untuk berangkat ke Kufah, di mana penduduknya sudah bersiap sedia untuk membaiat Imam Husein sebagai khalifah. Di antara isi surat itu adalah memberitahu sang Imam bahwa di Kufah terdapat 100000 pasukan yang siap berdiri di belakangnya untuk melawan Bani Umayyah (Lihat kitab Faji’atu Thaff hal 6, karangan Muhammad Kazhim Al Qazweini) Membaca surat itu, sang Imam yakin akan kesiapan 100000 penduduk kufah yang telah siap dengan pedang terhunus untuk melawan dan “kezhaliman bani Umayah”, Imam Husein akhirnya berangkat menuju kufah bersama keluarganya. Namun kali ini imam tertipu. Sebelum sampai ke kota Kufah rombongan beliau dicegat oleh tentara suruhan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Ketika rombongan sang Imam dicegat, kita tidak mendengar 100000 pasukan yang konon siap membela Imam Husein itu ikut membela dan berperang melawan musuhnya, kita tidak tahu kemana perginya mereka, begitu juga 12000 orang yang menuliskan surat ketika sang Imam berada di mekkah. Jika 100000 orang yang mengaku pembela Imam itu ikut berada di padang Karbala, pasti “tentara bani umayah” dapat dengan mudah dikalahkan. Mereka yang memanggil sang Imam begitu saja lari dari tanggungjawab. Mereka tega membiarkan cucu sang Nabi terakhir dijadikan bulan-bulanan, mereka tega darah suci keluarga nabi tumpah akibat larinya mereka dari tanggungjawab. Di dunia mereka bisa lari, namun di akhreat kelak tidak. Sang Imam beserta rombongannya dibiarkan begitu saja menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku sebagai pengikut dan pembelanya. Rupanya inilah karakter mereka yang mengaku-aku dan sok menjadi pembela ahlulbait sejak zaman para imam.

Akhirnya sang Imam pun Syahid menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku menjadi pembelanya. Sang Imam Syahid beserta para keluarganya, di antaranya adalah : saudara sang Imam, putra Ali bin Abi Thalib bernama Abubakar, Umar, Utsman. Bisa dilihat di kitab Ma’alimul Madrasatain karangan Murtadha Al Askari, jilid 3 hal 127. juga dalam kitab Al Irsyad karangan Muhammad bin Nukman Al Mufid hal. 197, I’lamul Wara karangan Thabrasi hal 112, juga kitab Kasyful Ghummah karangan Al Arbali jilid 1 hal 440. ini adalah sebagian referensi saja, yang lainnya sengaja tidak kami sebutkan karena terlalu banyak. Sementara putra Imam Husein di antaranya bernama Abubakar bin Husain dan Umar.

Sampai di sini mungkin pembaca belum tersadar akan sebuah fenomena yang menarik. Kita lihat di sini Imam Ali dan Imam Husein menamakan anaknya dengan nama para perampas haknya. Kita ketahui bahwa syiah meyakini bahwa khilafah bagi Ali telah ternashkan dari ketentuan Allah dan RasulNya, sedangkan mereka yang tidak mengakui adanya nash dianggap merasa lebih pandai dari Nabi. Dalam sejarah diyakini oleh syiah bahwa Abubakar telah merampas hak yang semestinya menjadi milik Ali. Di antara bentuk protes Ali adalah khotbah syaqsyaqiyyah yang tercantum dalam sebuah literatur penting syiah yaitu kitab Nahjul Balaghah. Namun yang aneh di sini adalah Ali yang memberi nama anaknya dengan nama si perampas hak yang sudah tentu bagi syi’ah adalah dibenci Allah.

Begitu juga menamai anaknya dengan nama Umar, sang penakluk yang telah mengubur kerajaan persia untuk selamanya, dan orang yang konon memukul bunda Fatimah hingga keguguran. Sering kita dengar bahwa Umar telah memukul Fatimah, perempuan suci putri Nabi dan istri Ali hingga janin yang dikandungnya gugur, sungguh nekad orang yang berani memukul putri Nabi. Namun dalam sejarah tidak disebutkan pembelaan Ali terhadap istrinya yang dipukul, malah memberi nama anaknya dengan nama orang yang memukul putri Nabi yang sekaligus adalah istrinya. Sementara di sisi lain kita tidak pernah menemukan bahwa Ali memberi nama anaknya dengan nama ayahnya yang “tercinta” yaitu Abu Thalib. Begitu juga para imam ahlulbait tidak pernah tercantum bahwa mereka memberi nama anak mereka dengan nama Abu Thalib. Apakah para imam ahlulbait lebih mencintai Abubakar dibanding cinta mereka pada Abu Thalib, kakek mereka sendiri? Ternyata fakta berbicara demikian. Mengapa tidak ada seorang imam maksum –terbebas dari kesalahan dan dosa- yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Thalib? Jika ada yang mengatakan bahwa para Imam Ahlulbait memberi nama anak mereka dengan nama-nama musuh karena basa basi, apakah para imam begitu penakut sehingga harus berbasa basi dalam hal nama anak?

Ataukah para imam begitu hina mau dipaksa orang lain untuk memberi nama anaknya sendiri?

Imam Ali bertaklid buta pada Abubakar As Shiddiq
Imam Maksum Bertaklid Buta pada Umar bin Khattab

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 10, 2008 in Firaq

 

Tag:

5 responses to “Yang Tersisa Dari Karbala

  1. Maz Qubiel

    Oktober 12, 2008 at 8:07 pm

    Ass.
    boleh tanya stad ; apakah yang anda fahami tentang surah Al Ahzab : 33 ??? Sukron, semoga Hidayah Alloh senantiasa bersama antum. Amin Illahi Ya Robb.

     
  2. Penulis Bebas

    Oktober 13, 2008 at 1:24 pm

    Sebelumnya, Semoga ALLAH mengabulkan do’a antum.
    ———————————————————————

    Saya tdk tahu siapa yang dimaksud dengan stad?? Nama saya bisa anda lihat di https://kilasanku.wordpress.com/tentang-aku/

    Memang, pernah saya mengobrol dengan orang syiah, bahkan sudah sering mungkin orang – orang syiah menggunakan ayat diatas. Mengenai ayat pada Surah Al Ahzab : 33, bahkan tulisan diatas pun memberikan pujian pada al – hasan dan al – husein sebagai ahlul bait. Coba baca di https://kilasanku.wordpress.com/2008/10/10/kisah-terbunuhnya-al-hasan-dan-al-husein-1/ bahwa blog ini memberikan pujian kepada ahlul bait.

    Sekarang kembali ke ayat pada Surah Al Ahzab : 33, apakah yang dimaksud dengan ahlul bait. Apakah seperti klaim syiah yang mengatakan, bahwa dimaksud dengan ahlul bait itu hanyalah 4 orang saja?? yaitu sahabat Ali, Fatimah, Al – Hasan dan Al – Husein. Atau klaim yang menyatakan bahwa isteri – isteri Rosulullah tidak termasuk ahlul bait.

    Jika kita baca ayat diatas, maka kita dapati, bahwa pada awalnya kata ahlul bait menunjuk kepada isteri – isteri Rosulullah terlebih dahulu.

    “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al – Ahzab : 32 – 33)

    Jadi kata “kamu” diayat itu menunjuk kepada isteri – isteri Rosulullah.

    Karena ayat 32 dan 33 itu berhubungan. Jangan sampai kita memotong ayat seperti ayat pada surat al-Maa’un ayat 4,

    “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,” (al-Maa’un : 4)

    Padahal ayat ini ada hubungannya dengan ayat selanjutnya yaitu,

    “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (al-Maa’un : 4 – 5)

    Maka dari itu para ulama menyimpulkan, bahwa Ahlul Bait itu adalah termasuk isteri – isteri Nabi juga.

    Abbas paman Nabi termasuk, Ibnu Abbas sepupu Nabi termasuk, saudara Al – Hasan dan Al – Husein yaitu Ummu Kultsum yang dinikahi oleh Umar al – Faruq pun termasuk.

    Jadi tidak hanya terbatas kepada Ali, Fatimah, Al – Hasan dan Al – Husein saja.

     
  3. Penulis Bebas

    Oktober 13, 2008 at 1:55 pm

    Satu lagi, tulisan diatas hanya ingin mengungkapkan suatu kenyataan bahwa sebenarnya antara Sahabat Abu Bakar, Umar, Ali, Hasan dan Husein telah terjalin kasih sayang yang kuat.

    Jadi seharusnya orang – orang yang mengatakan bahwa Ali, Hasan dan Husein membenci Abu Bakar dan Umar harus berfikir seribu kali.

    Kenapa, karena kenyataan yang ada sahabat Ali memberi nama anak – anaknya yang lain selain Hasan dan Husein dengan nama Abu Bakar dan Umar.

    Lalu begitu juga sahabat Hasan dan Husein memberi nama anak – anak mereka dengan nama Abu Bakar dan Umar.

    Lalu, yang paling penting, sahabat Ali telah menikahkan saudara perempuan Hasan dan Husein yang bernama Ummu Kultsum dengan sahabat Umar. Dan pernikahan ini terjadi ketika Umar menjadi Khalifah.

    Jadi pertanyaannya?? Apakah mereka saling membenci atau saling menyayangi.

     
  4. asadiku

    Oktober 24, 2008 at 6:19 am

    salaaam
    kayaknya ada masalah yg ana sulit ngerti tuh
    Abubakar kan bukan nama asli
    kayaknya itu gelar aja deh…..
    di arab emang gitu
    tapi kalau di indonesia, ana gak masalah kl di kasih nama Abubakar
    mungkin antum harus sedikit kritis tuh…..
    maaf ana cuma numpang komen kalau antum kagak keberatan
    afwan

     
  5. Penulis Bebas

    Oktober 24, 2008 at 6:37 am

    Tidak juga, kadang kunyah (atau gelar) bisa jadi sebuah nama jika gelar itu identik.

    Seperti Abu Hurairah,

    Hurairah sendiri artinya anak kucing, masa Abu Hurairah punya anak seekor kucing.

    Terus Abu Jahal sudah menjadi identik.

    Juga Abdul Muthalib sudah menjadi identik.

    Bahkan Abul Qasim, itu sudah menjadi identik kepada Rosulullah. Nabi melarang orang lain menggunakan gelar itu. Ada hadist shohih yang menjelaskan ini.

    Rosulullah mengizinkan orang lain menggunakan namanya, tapi melarang menggunakan gelarnya karena sudah identik.

    Jadi Abu Bakar itu sudah identik kepada Abu Bakar. Nah orang yang memberi namanya Abu Bakar mau Arab atau Non Arab pasti ada alasan.

    Coba antum bayangkan, mengkinkah sang bayi anaknya Imam Ali sudah punya anak?? Sehingga di panggil Abu Bakar??

    Tidak mungkin kecuali kata Abu Bakar ini adalah sekadar nama, bukan gelar.

    Mungkinkah seorang ayah memberi nama anaknya dengan orang yang dibencinya, padahal nama itu sudah identik dengan nama yang dibencinya.

    Beda kalau pemberi nama itu tidak tahu ada yang memakainya atau mungkin tidak membenci pemakai nama itu.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s