RSS

Nikah Mut’ah dan Pelacuran

25 Sep

Apakah nikah mut’ah sama dengan pelacuran? Barangkali banyak yang marah membaca judul di atas. Namun sebelum marah, hendaknya membaca dulu selengkapnya.

Kita bisa mengatakan motorku sama dengan motormu ketika kedua motor kita setype, kita bisa mengatakan rumahmu sama dengan rumahku ketika rumah kita sama-sama dicat dengan warna yang sama. Kita bisa mengatakan Hpku sama dengan Hpmu ketika HP kita setype. Antara HP kita dan HP teman kita ada faktor kesamaan sehingga bisa kita katakan sama. Sama artinya adalah ketika ada sesuatu yang ada pada dua hal yang kita perbandingkan. Semakin banyak kesamaan yang ada, semakin bisa kita katakan bahwa dua hal itu sama.

Walaupun banyak faktor kesamaan yang ada, kadang ada juga perbedaan-perbedaan yang bisa jadi penting dan bisa jadi tidak penting. Misalnya seluruh manusia adalah sama, artinya sama-sama manusia walaupun ada perbedaan yang kadang banyak, misalnya perbedaan suku, warna, ras, bahasa, perilaku, sifat dan watak, namun semua tetap disebut manusia. Sama-sama manusia walaupun beda. Namun dalam kacamata Islam, ada kriteria tertentu yang membedakan manusia, yang mana Islam mengklasifikasikan manusia melalui kriteria-kriteria itu. Kriteria itu adalah iman, artinya dalam segala kesamaan yang ada di antara seluruh manusia, ada perbedaan inti di antara mereka, yaitu iman. Meskipun ada ribuan persamaan di antara manusia, ketika ada perbedaan iman disitu manusia berbeda. Orang beriman berbeda dengan orang kafir, meskipun keduanya memiliki banyak persamaan, walaupun keduanya –misalnya- saudara kembar. Allah membedakan antara keduanya dengan iman. Dalam kasus ini -dan juga banyak kasus- satu perbedaan dapat menghapus semua kesamaan yang ada.

Ada banyak persamaan antara pernikahan dan perzinaan, yang mana perbedaan yang ada hanya pada akad nikah yang mensyaratkan adanya wali, saksi dan akad dan syarat lainnya, sementara perzinaan tidak perlu ada saksi dan wali, tinggal tawar dan bayar. Bahkan seringkali tanpa ada pembayaran, asal kedua belah pihak suka sama suka maka mereka berdua bisa langsung berzina tanpa syarat apa pun.

Meskipun ada banyak persamaan, sedikit perbedaan dapat membedakan perzinaan dan pernikahan, hal ini tidak perlu dibahas lagi panjang lebar. Dalam hal ini perbedaan yang sedikit membawa implikasi yang begitu besar.

Sebaliknya ketika perbedaan yang ada tidak membawa implikasi apa pun maka bisa dianggap tidak ada, seperti perbedaan rupa manusia tidak membawa implikasi apa pun, yang berbeda dengan implikasi perbedaan iman.

Pada aritkel lalu pembaca telah menelaah fikih nikah mut’ah, yang memberikan lebih banyak gambaran tentang “keindahan” nikah mut’ah bagi pembaca. Kali ini kita akan membandingkan “keindahan” nikah mut’ah dengan realita pelacuran yang ada di lapangan, pada akhirnya kita menemukan tidak ada perbedaan signifikan antara nikah mut’ah dan pelacuran, yang ada hanya perbedaan simbolik dengan isi dan substansi yang sama.

Kita akan melihat lagi point-point “keindahan” nikah mut’ah dan membandingkannya dengan realita pelacuran.

  1. Nikah mut’ah adalah praktek penyewaan tubuh wanita, begitu juga pelacuran.
  2. Kita simak lagi sabda Abu Abdillah : “menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan”. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.

    Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk lain dari pelacuran, karena Imam Abu Abdillah terang-terangan menegaskan status wanita yang dinikah mut’ah: mereka adalah wanita sewaan.

  3. Yang penting dalam nikah mut’ah adalah waktu dan mahar
  4. Sekali lagi inilah yang ditegaskan oleh imam syi’ah yang maksum : “Nikah mut’ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu”. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 455.

    Begitu juga orang yang akan berzina dengan pelacur harus sepakat atas bayaran dan waktu, karena waktu yang leibh panjang menuntut bayaran lebih pula. Pelacur tidak akan mau melayani ketika tidak ada kesepakatan atas bayaran dan waktu. Sekali lagi kita menemukan persamaan antara nikah mut’ah dan pelacuran.

  5. Batas minimal “mahar” nikah mut’ah.
  6. Dalam nikah mut’ah ada batasan minimal mahar, yaitu segenggam makanan berupa tepung, gandum atau korma. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 457. Sedangkan dalam pelacuran tidak ada batas minimal bayaran, besarnya bayaran tergantung dari beberapa hal. Kita lihat disini perbedaan antara mut’ah dan pelacuran hanya pada minimal bayaran saja, tapi baik mut’ah maupun pelacuran tetap mensyaratkan adanya bayaran. Banyak cerita yang kurang enak mengisahkan mereka yang berzina dengan pelacur tapi mangkir membayar.

  7. Batas waktu mut’ah
  8. tidak ada batasan bagi waktu nikah mut’ah, semua tergantung kesepakatan. Bahkan boleh mensepakati waktu mut’ah walau untuk sekali hubungan badan.

    Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut’ah? “Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan?” Jawabnya : “ya”. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 460

    Begitu juga tidak ada batasan waktu bagi pelacuran, dibolehkan menyewa pelacur untuk jangka waktu sekali zina, atau untuk jangka waktu seminggu, asal kuat membayar saja. Demikian juga nikah mut’ah.

  9. Boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali.
  10. Suami istri diberi kesempatan untuk tiga kali talak, setelah itu si istri harus menikah dengan lelaki lain. Tidak demikian dengan nikah mut’ah, orang boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali, asal tidak bosan saja. Karena wanita yang dinikah secara mut’ah pada hakekatnya sedang disewa tubuhnya oleh si laki-laki. Sama persis dengan pelacuran.

    Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, “Seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama?” Jawab Abu Ja’far: “Ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya”. Al Kafi jilid 5 hal 460

    Begitu juga orang boleh berzina dengan seorang pelacur semaunya, tidak ada batasan.

  11. Tidak usah bertanya menyelidiki status si wanita
  12. Laki-laki yang akan nikah mut’ah tidak perlu menyelidiki status si wanita apakah dia sudah bersuami atau tidak. Begitu juga orang tidak perlu bertanya pada si pelacur apakah dia bersuami atau tidak ketika ingin berzina dengannya.

    Dari Aban bin Taghlab berkata: “Aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur”. Jawabnya: “Ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya”. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 462

  13. Hubungan warisan
  14. Nikah mut’ah tidak menyebabkan terbentuknya hubungan warisan, artinya ketika si “suami” meninggal dunia pada masa mut’ah maka si “istri” tidak berhak mendapat warisan dari hartanya.

    Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 : “Nikah mut’ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini”. Minhajushalihin. Jilid 3 Hal. 80

    Begitu juga pelacur tidak akan mendapat bagian dari harta “pasangan zina”nya yang meninggal dunia.

  15. Nafkah
  16. Istri mut’ah yang sedang disewa oleh suaminya tidak berhak mendapat nafkah, si istri mut’ah hanya berhak mendapat mahar yang sudah disepakati sebelumnya. Bayaran dari mut’ah sudah all in dengan nafkah, hendaknya istri mut’ah sudah mengkalkulasi biaya hidupnya baik-baik sehingga bisa menetapkan harga yang tepat untuk mahar mut’ah.

    Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan: Masalah 256 : “Laki-laki yang nikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut’ah atau akad lain yang mengikat”. Minhajus shalihin. Jilid 3 hal 80.

    Begitu juga laki-laki yang berzina dengan pelacur tidak wajib memberi nafkah harian pada si pelacur.

Terkait : Indahnya Nikah Mut’ah, Ustadz Syi’ah Doyan Mut’ah?

———————————–

Wah jangan – jangan Agama Syiah ini yang bakal kena cekal pertama kali kalau UU APP di sahkan.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada September 25, 2008 in Firaq

 

Tag:

6 responses to “Nikah Mut’ah dan Pelacuran

  1. muntazer

    Juni 3, 2009 at 6:26 am

    Kalau nikah mutah sama dengan pelacuran (menurut hadis yang memperbolehkan mutah zaman Rasul dan abu bakar as) berarti Rasul dan Abu Bakar ra pernah memperbolehkan pelacuran? (terima kasih bila dijawab)

    Jawab :

    Wah berarti gak baca artikelnya sampai selesai. Nikah Mut’ah yang sama dengan Pelacuran kan Nikah Mut’ahnya Syiah. sedangkan Nikah Mut’ah Syiah dengan Nikah Mut’ah yang pernah di halalkan oleh di masa Rosulullah berbeda. Namanya aja sama, tapi prakteknya berbeda.

    Jadi yang Nikah Mut’ah = Pelacuran itu adalah Nikah Mut’ah versi Syiah.

    Paham sekarang.

     
  2. ega227

    September 29, 2009 at 5:54 am

    Saya masih belum paham… Apakah berarti mut’ah itu halal?

    Mut’ah hukumnya haram

     
  3. bumi

    Maret 10, 2010 at 4:00 am

    ini mungkin bisa dijadikan pertimbangan dalam menelaah / kajian tentang hukum nikah mut’ah..

    nikah mut’ah adalah haram dan bathil jika terjadi berdasarkan hadits yang diriwayatkan bukhori dan muslim dari ali bin abi tholib, al bukhori dalam kitab al hiya ( 6560 ) dan muslim dalam kitab an nikah ( 1407 ) juga terdapat dalam sunan tirmizi dalam kitab an nikah ( 1121 ), sunan an nasai dalam kitab ash ahaid wa adz dzaba’ih ( 4334 ), sunan ibnu majah dalam kitab an nikah ( 1961 ), musnad ahmad bin hambal ( 1/79 ) muwathok malik dalam kitab an nikah ( 1151 ),, sunan ad darimi dalam kitab an nikah ( 2197 ) ” bahwasanya Rasullulah SAW, melarang jenis pernikahan mut’ah dan memakan daging keledai ahlinya pada hari kahibar”
    Demikian pula imam muslim meriwayatkan dalam sebuah hadits dalam kitab shohihnya dari shbrah bin ma’badal juhaidr nabi SAW bahwa beliau bersabda, lafad hadits ( yang akan disebutkan ini ) juga diriwayatkan ahmad 2/405 – 406, muslim 2/1025 no 1406. ibnu majah 2/631, no rnht, ad darimi 2/140. addurrazaq 7/504 no 14041, ibnu abi syaibah 4/292, abu ya’la 2/238 no 939 ibnu hibban 9/454-455 no 4147 dan baihaqi 7//203 ” Sungguh! Aku dahulu mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan wanita ( ketahuilah ) sesungguhnya Allah telah mengharamkan sampai hari kiamat, barang siapa yang masih melakukannya hendaklah meninggalkannya dan jangan mengambil sesuatu yang telah ia berikan kepadanya ( wanita yang di mut’ah )

     
  4. Daniyal Abi Gufron

    Oktober 13, 2010 at 4:08 pm

    Bagaimana nikah mut’ah selain syiah?bagaimana prakteknya?

     
  5. Muslim

    Oktober 23, 2011 at 12:32 am

    @Daniyal Abi Gufron: tidak ada nikah mut’ah selain syiah, karena yg menghalakan nikah mut’ah cuma syiah, adapun nikah mut’ah pada jaman nabi terdapat syaratnya (darurat) yang mana nabi memberi keringanan, tetapi keringanan itu sudah dicabut sampai dengan hari kiamat. dari fakta bahwa nabi memberi keringanan itu pun sebenarnya dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum asalnya nikah mut’ah pada jaman nabi adalah haram!!.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s