RSS

Muawiyah di mata Imam Ali

25 Sep

Bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah? Bandingkan dengan pertanyaan: Apakah Nabi Isa pernah mengklaim dirinya sebagai tuhan?

Sepertinya Muawiyah telah menjadi simbol kesesatan dan kekafiran, juga kemunafikan, hanya karena memerangi Ali dan merampas khilafah dari Ali. Padahal Muawiyah tidak pernah menjadi khalifah semasa Ali hidup. Tapi ada sisi lain yang jarang diungkap, yaitu pandangan Imam Syi’ah sendiri tentang Muawiyah. Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali dan Hasan tentang Muawiyah? Bagaimana Imam Ali memandang konflik yang meletus dengan Muawiyah?

Kita malah jarang mendapat data primer dari Imam syi’ah sendiri, yang sering kita dapatkan adalah data-data sekunder yang sudah tidak murni lagi, karena terbukti jauh berbeda [baca: berlawanan] dengan data primer dari ucapan imam Syi’ah yang maksum, yang suci dari dosa.

Kita sering mendengar pernyataan yang menyebut Muawiyah sebagai kafir, tapi kita jarang membaca keterangan dari Imam Ali, lalu bagaimana pendapat Imam Ali sebenarnya?

Dari Ibnu Tharif dan Ibnu Alwan dari Ja’far dari ayahnya, bahwa Ali mengatakan pada pasukannya :
“Kami tidak memerangi mereka karena mereka kafir, juga bukan karena mereka menganggap kami kafir, tetapi merasa kamilah yang benar, mereka pun merasa demikian.”

Biharul Anwar jilid 32 hal 321-330, Bab hukum memerangi Amirul Mukminin Ali.
Riwayat ini diriwayatkan juga oleh Himyari dari kitab Qurbul Isnad hal 45.

Jadi Ali sendiri tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai kafir, seperti anggapan orang sekarang.

Lebih jelas lagi, dalam Nahjul Balaghah:

“Pada awalnya, kami bertempur dengan penduduk Syam, dan nampak bahwa Tuhan kita sama, begitu juga Nabi kita sama, begitu juga kami dan mereka sama-sama mengajak kepada Islam, tingkat keimanan kami pada Allah dan kepercayaan kami pada Rasul adalah sama, begitu juga mereka tidak melebihi kami dalam iman pada Allah dan percaya para Rasul, seluruhnya satu, kecuali perbedaan yang ada tentang darah Utsman, dan kami tidak ikut serta membunuhnya.”

Nahjul Balaghah, wa min kitabin lahu katabahu ila ahlil amshar yaqushshu fiihi ma jara bainahu wa baina ahli shiffin, hal 448.

Perlu diketahui, kitab Nahjul Balaghah memiliki banyak cetakan, janganlah kami disalahkan jika cetakan yang ada pada kami berbeda dengan yang ada pada pembaca. Kita baca di atas, Ali tidak menuduh Muawiyah sebagai kafir.

Dari Abdullah bin Ja’far Al Himyari dalam kitab Qurbul Isnad dari Harun bin Muslim dari Mas’adah bin Ziyad, dari Ja’far, dari ayahnya, bahwa Ali tidak pernah memvonis orang yang memeranginya sebagai musyrik maupun munafik, tetapi Ali hanya mengatakan: mereka adalah saudara kami yang membangkang. Qurbul Isnad, dari Wasa’ilu As Syi’ah jilid 15 hal 69 – 87.

Ali memang tidak pernah menganggap Muawiyah sebagai munafik, tapi hanya pengikutnya saja yang berpandangan keliru dan Muawiyah sebagai kafir dan munafik. Alih-alih menganggap kafir, Ali malah menganggap Muawiyah sebagai saudaranya.

Seperti kenyataan dari kitab Bible yang katanya firman Yesus, tidak pernah ada keterangan menyatakan Nabi Isa atau Yesus adalah tuhan, tapi dari kaum Nasrani saja yang menyatakan hal itu.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 25, 2008 in Firaq

 

Tag:

2 responses to “Muawiyah di mata Imam Ali

  1. ferry

    November 2, 2008 at 1:21 pm

    Assalamualaikum
    Ada yang ingin saya tanyakan, dalam sebuah blog syiah saya mendapati comment berikut:
    Dalam sebuah hadis:
    حدثنا ‏ ‏مسدد ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏عبد العزيز بن مختار ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏خالد الحذاء ‏ ‏عن ‏ ‏عكرمة ‏ ‏قال لي ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏ولابنه ‏ ‏علي ‏ ‏انطلقا إلى ‏ ‏أبي سعيد ‏
    فاسمعا من حديثه فانطلقنا فإذا هو في حائط يصلحه فأخذ رداءه ‏ ‏فاحتبى ‏ ‏ثم أنشأ يحدثنا حتى أتى ذكر بناء المسجد فقال كنا نحمل لبنة لبنة ‏ ‏ وعمار ‏ ‏لبنتين لبنتين فرآه النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فينفض التراب عنه ويقول ‏ ‏ ويح ‏ ‏ عمار ‏ ‏ تقتله الفئة ‏ ‏ الباغية ‏ ‏ يدعوهم إلى الجنة ويدعونه إلى النار قال يقول ‏ ‏ عمار ‏ ‏أعوذ بالله من الفتن
    Dari Abi Said Rasulullah saw. bersabda:
    …………Duhai Ammar! akan dibunuh oleh al-Fi’ah al-Baghiyah (kelompok Durhaka) dia mengajak mereka ke surga, sementara mereka mengajak ke neraka. Ammar berkata: Audzubillah dari fitna.
    (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
    sumber:
    http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&ID=102648&SearchText=ويح عمار تقتله الفئة الباغية، يدعوهم الى الجنة ويدعونه الى النار»&SearchType=root&Scope=all&Offset=0&SearchLevel=QBE

    Diriwayatkan bahwa ternyata sabda Rasul SAW terbukti Ammar bin Yassir gugur di perang Shiffin antara Sayyidina Ali RA VS Muawiyah RA. Apakah al-Fi’ah al-Baghiyah mengacu kepada hanya segolongan kecil tentara Muawiyah RA atau seluruhnya? Hadis ini sering jadi hujjah oleh kelompok syiah terhadap Muawiyah RA.

     
  2. Penulis Bebas

    November 4, 2008 at 9:49 am

    Seingat saya dari penjelasan sebagian ulama al-Fi’ah al-Baghiyah menunjuk kepada keseluruhan. Akan tetapi, Allah sudah mengampuni sebagian besar dari mereka, kecuali kelompok yang membelot seperti kaum Khawarij, sebagai bukti mereka kembali memerangi Imam Ali dan Imam Ali pun mengalahkan mereka.

    Sebagai bukti adalah hadist Nabi,

    “Dari Ummu Haram radhiallahu ‘anha, bahwasannya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang pertama dari umatku yang berperang di laut telah mendapatkan (surga -pen)” Ummu Haram berkata: Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku ada bersama mereka?’ Beliau menjawab: ‘Engkau ada bersama mereka,’ kemudian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Orang-orang pertama dari umatku yang memerangi kota Kaisar telah diampuni dosanya.’ Maka aku bertanya: ‘Apakah aku ada bersama mereka, wahai Rasulullah?’ beliau menjawab: ‘Tidak’.” (HR. Al Bukhori)

    Kelompok pertama merujuk kepada Sahabat Muawiyah Rhadiyallahu’anhu dan pasukannya. Kelompok kedua merujuk kepada Yazid dan pasukannya.

    Hadist al-Fi’ah al-Baghiyah menjadi bukti bahwa Imam Ali berada dipihak yang benar, karena pada saat itu sebagian besar sahabat berada dipihak Imam Ali, salah satunya Ammar bin Yasir Rhadiyallahu’anhu.

    al-Fi’ah al-Baghiyah sendiri tidak bermakna orang – orang yang tidak beriman, tapi orang – orang durhaka.

    “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah.

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang – orang mukmin adalah bersaudara… dst.” (QS: Al Hujurat 9-10).

    Jadi, Allah meyebut kedua belah pihak dengan orang beriman sekalipun mereka saling berperang. Ayat tersebut begitu jelas, sehingga tidak memerlukan keterangan panjang lebar.

    Sebagai tambahan agar kita berhati – hati :

    Dari Abu Zar r. a., ia mendengar Nabi S. A. W. bersabda: “Seorang laki-laki yang menuduh laki-laki lain itu jahat atau menuduhnya kafir, maka tuduhannya itu berbalik kepada dirinya, seandainya orang yang dituduhnya itu tidak seperti itu.” (HR. Muslim)

    Maka dari itu Imam Ali tetap menganggap Muawiyah sebagai saudara seimannya. Tidak pernah menuduhnya munafik atau kafir. Karena menuduh munafik pada masa sahabat seperti menuduh mereka menyembunyikan kekafiran dalam dadanya. Ini lebih berbahaya dari menuduhnya kafir.

    Wallahu’alam.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s