RSS

Musailamah Al Kadzab mengakui kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

04 Okt

Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Abdul Basij mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi tapi tidak membawa syariah baru seperti Nabi Muhammad, itulah perkataannya saat rapat dengar pendapat umum antara Komisi VIII dengan JAI di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/2/2011). (Detik.com)

Pengakuan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi bukanlah pokok dari permasalahannya, karena permasalah utamanya adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan disinilah letak dari kesesatan Ahmadiyah.

Jika hanya sekedar alasan itu, maka Musailamah Al Kadzab pun mengakui kenabian dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang ditulis dalam suratnya yang dikirimkan Musailamah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Surat Musailamah Al Kadzab

“Dari Musalaimah Rasulullah, kepada Muhammad Rasulullah. Teriring salam untuk Anda. Selanjutnya, aku telah diangkat menjadi sekutu Anda. Separuh bumi ini adalah untuk kami dan separuh lagi untuk kaum Quraisy. Tetapi kaum Quraisy berbuat keterlaluan”.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan :

Dua utusan Musailamah Al Kadzab datang membawa surat Musailamah Al Kadzab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah Abdullah bin an-Nawahah dan ibnu Atsal.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keduanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang surat ini?”.

“Kami sependapat dengan Musailamah!” jawab dua utusan itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada keduanya: “Seandainya bukan karena utusan itu tidak dibunuh, maka tentulah aku akan memenggal leher kalian berdua!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas surat Musailamah sebagai berikut:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah Al Kadzab (Pembohong). Keselamatan hanya bagi siapa yang mengikuti petunjuk yang benar. Selanjutnya, sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah. Dialah yang berhak mewariskan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Kemenangan adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Jangan sampai menjadi Ar-Rajjal bin Unfuwah

Siapakah Ar-Rajjal bin Unfuwah? Ar-Rajjal bin Unfuwah pada awalnya adalah sahabat Nabi, dia mengetahui ilmu ad-Dien.

Ath-Thabari menyebutkan ceritanya dalam kitab “Tarikh”-nya, dia berkata, “As-Sarri menuliskan surat kepadaku dari Syu’aib, dari Sa’if, dari Thalhah bin A’lam, dari Ubaid bin Umair, dari Utsal Al-Hanafi –dia bersama Tsumamah bin Utsal-, dia berkata, Musailamah merayu dan merangkul setiap orang; dia tidak peduli dengan orang yang melihatnya berbuat jelek, dan bersamanya Ar-Rajjal bin Unfuwah. Dia (Ar-Rajjal bin Unfuwah) telah berhijrah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membaca Al-Quran dan memahami dien. Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah, supaya mereka menentang Musailamah dan bersikap keras terhadap urusan umat Islam.”

Jadi pada awalnya, Ar-Rajjal bin Unfuwah mendapat tugas untuk mengajar penduduk Yamamah akan sesatnya Musailamah, menentang Musailamah dan menggagalkan usaha Musailamah untuk diakui menjadi nabi disamping Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, di tengah jalan, Ar-Rajjal bin Unfuwah terpengaruh dan lalai dari tugasnya. Malah sebaliknya, dia menjadi pembela eksitensi Musailamah Al Kadzab sebagai nabi palsu.

Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,

“Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya, dari Abu Hurairah ra.

(Lihat Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab)

Perkataan Abu Hurairah yang mengatakan bahwa fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah lebih besar dari Musailamah disebabkan akibat yang ditimbulkannya sangat besar, karena sejak Ar-Rajjal bin Unfuwah membela Musailamah Al Kadzab, pengikut nabi palsu ini semakin yakin kepada Musailamah dan semakin bertambah jumlahnya. Maka disinilah fitnah terbesarnya.

Kepada para ulama atau pun pejabat pemerintah, di luar peristiwa penyerangan kepada kelompok Ahmadiyah yang tetap harus dalam proses penyelidikan, tetaplah tidak mengubah status bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan wajib dibubarkan, karena Ahmadiyah adalah pokok utama dari semua masalah ini, jangan sampai malah berbalik jadi pembela kelompok sesat ini.

Wallahu’alam

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Oktober 4, 2011 in tulas -tulis

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s