Haruskah Kecamatan Mandau Menjadi Kabupaten ?? (Bagian 2)

Mertua saya punya tempat yang di sewakan sebagai kost – kostan. Suasananya akrab sekali, semua yang kost ditempat mertua saya seperti keluarga saja layaknya. Di kost itu ada seorang anak yang sangat pintar, dia menjadi juara kelas di SMP tempat dia sekolah. Namanya Nazar, dia anak penduduk asli daerah itu, penduduk asli daerah itu dinamakan “orang Sakai”.

Pernah suatu ketika, sumur di rumah mertua saya mengalami kekeringan. Untuk mengantisipasi hal itu, mertua saya memutuskan menggali lebih dalam salah satu sumur yang berada dikebun, sebagai alternatif sementara. Singkat cerita, sumurnya berhasil digali dan menghasilkan air, tapi airnya masih keruh.

Ketika itu waktu sore, saya lihat si Nazar dengan santai nya dia bermain air dan mandi. Saya heran dan langsung saya tanya, “lho kenapa malah mandi disini, tunggu airnya bersih dulu atau dipindahin ke kamar mandi ?”, Dia jawab, “Biarin, airnya sejuk dan besih kok.”.

Malam itu saya cerita sama isteri saya soal si Nazar, tapi isteri saya terlihat tidak kaget. Isteri saya bilang, “Ah itu sih biasa bagi mereka, malah orang Sakai biasa mandi disungai yang kotor, karena disana susah air, tanya saja si Nazar. Bahkan kebanyak dari mereka gak pernah pakai sabun dan sikat gigi. Gimana mau bersih sungainya, limbah dari Caltex langsung ke sungai yang mengalir di daerah penduduk”. “Sebenarnya si Nazar termasuk beruntung tinggal disini, serba bersih, dia kan dapat beasiswa”, isteri saya menambahkan. Saya jadi berfikir, ternyata saya harus sangat bersyukur, bahwa saya lahir di kota yang tidak ada sumber minyaknya. Itulah alasan saya tidak mau meninggalkan kota Bandung yang saya tempati sekarang berpindah ke “kota Duri”, saya belum merasakan kenyamanan disana, apalagi saya termasuk orang yang susah beradaptasi.

Waktu itu saya berkesimpulan bahwa Caltex ini sebenarnya sumber masalahnya, tapi isteri saya bilang, bahwa sebenarnya Caltex sudah sering berkerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun, salah satunya memberikan bantuan biaya pembuatan jalan termahal untuk ukuran kecamatan, tapi realisasinya tidak pernah ada. Saya sendiri tidak tahu kebenaran cerita itu, yang pasti bahwa keadaan jalan yang saya lalui menjadi saksi tidak ada perbaikan jalan.

Saya pernah diajak jalan – jalan ke komplek Caltex, wuiih pasti yang belum pernah masuk komplek mewah pasti kaget, termasuk saya sendiri. Waktu itu saya sempat senyum sendiri, dalam hati saya, ini sih seperti negara dalam negara, dari jalan rusak tiba – tiba masuk ke komplek jalam langsung mulus. Bahkan banyak aturan lalu lintas di dalam komplek itu yang saya sendiri baru melihatnya.

Saya sendiri heran, kenapa pembangunan jalan mulus itu tidak diteruskan aja keluar, kenapa harus dibatasin, saya tanyakan itu. Saya dapat jawaban, bahwa itu adalah hak dan kewajiban pemda setempat, Caltex tidak bisa membangun maka dari itu Caltex mengirimkan uangnya atau biaya pembangunannya ke Pemda setempat. Jadi, ada tidaknya perbaikan jalan sudah bukan kewajiban Caltex lagi. Ooohh, begitu dalam hati saya.

Akhir – akhir marak aksi demontrasi yang dilakukan oleh organisasi – organisasi daerah kecamatan Mandau yang menuntut pemekaran dan pemisahan dari Kabupaten Bengkalis. Saya sendiri termasuk tidak setuju dengan aksi demontrasi, karena bagaimana pun aksi ini lebih banyak kerugiannya dibandingkan manfaatnya. Bahkan orang – orang yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu permasalahan pun terkadang harus menanggung kerugiannya. Bagi saya aksi demontrasi adalah aksi yang dilakukan oleh, orang yang tidak sabar, tidak berilmu dan tidak punya rasa kepedulian dengan orang – orang yang terkena dampak dari aksi itu.

Akan tetapi, itulah yang terjadi di “kota Duri”, saya bisa membayangkan kenapa itu sampai terjadi, saya aja yang baru tinggal sebentar di Duri bisa merasakan ketidaknyamanan atas semua pertanyaan dari keheranan yang tidak bisa menemukan jawabannya.

Bahkan, imbasnya pemerintah Indonesia dianggap melakukan kerjasama yang merugikan dengan Caltex/Chevron dengan membawakan bukti keadaan kota Duri, sehingga ini selalu saja di jadikan senjata bagi orang – orang yang selalu mengumbar aib pemerintah, padahal belum tentu terbukti benar.

Menurut saya langkah tepat adalah, dengan memberikan “kota Duri” menjadi sebenar – benarnya kota bisa menjadi jawaban bahwa pemerintah tidak pernah salah bekerja sama dengan perusahaan asing dalam melakukan explorasi minyak.

Dan lagi bukankah layak, kota tersebut sebagai kota yang wajib mendapat perhatian khusus, karena sudah kenyataannya masyarakat “kota Duri” harus menanggung limbah baik secara polusi udara ataupun polusi air hasil explorasi minyak dan masyarakat Indonesia yang menikmati hasil dari semua ini.

Sudah waktunya “kota Duri” yang hanya sekedar “panggilan” menjadi Kota Duri yang sesungguhnya. Saya mendukung adanya pemekaran dan pemisahan dari Kabupaten Bengkalis serta pembentukan Kota Duri yang sesungguhnya, tapi tetap saya tidak setuju jika perwujudan itu ditempuh dengan aksi – aksi demontrasi. Masih banyak cara yang lebih bijak, yang diperlukan adalah kerja keras dari para tokoh masyarakat untuk memikirkan strategi dan usaha yang lebih bijak dari mereka, sebagai keseriusan mereka ingin membangun “kota Duri”.

Dukung “Kota Duri” menjadi Kota Duri sesungguhnya dengan membuat artikel dan atau menyebarkan artikel ini.

Bacaan lebih lanjut : Wikipedia : Duri, Bengkalis

Artikel kedua dari tulisan :

http://kilasanku.wordpress.com/2008/06/19/haruskah-kecamatan-mandau-menjadi-kabupaten-bagian-1/

28 Tanggapan

  1. Air Limbah Caltex? Sungai yang Hitam?

    Setahuqu, Sungai di Riau rata-rata berwarna hitam karena memang berasal dari lahan gambut. jadi bukan karena limbah air buangan minyak bumi…..

    Air di sungai yang hitam itu, jauh lebih bersih puluhan kali dibanding air Sungai Cikapundung di Curug Dago Pakar.

  2. Maaf jika kita berbeda pendapat,

    tapi pernyataan air sungai di duri terkotori oleh limbah dari minyak caltex keluar dari perkataan orang yang tinggal dan lahir disana dan dia seorang muslim.

    ingat sungai diduri bukan riau lho, karena riau satu propinsi, tapi duri satu kecamatan. Kalau sungai di riau selain duri saya tidak tahu.

  3. Sungai yang hitam itu di daerah Rangau di Duri dan kelihatan berminyak, kemungkinan kena limbah karena baunya juga enggak enak.

    Di sekitar daerah itu banyak lokasi proyek. Udah lama saya lihat itu, tapi gak tahu kondisinya sekarang bagaimana, karena sekarang udah 3 tahun saya tinggal di Bandung.

  4. Bener mas, setau saya juga sungai2 dsana emg rata2 berwarna hitam.
    Limbah Chevron kah? kyk nya gak deh mas…hehehe
    Wah udah lama nih gak ke Duri….pa kbr yak tuh kota? kyknya sih msh gitu2 aja deh (-_-”)

  5. Baiklah, mungkin soal air sungai itu masih banyak perdebatan. Kita percaya Caltex atau Chevron tidak akan membuang limbah sembarangan.

    Hanya saja, coba deh bandingkan aja kota Sukabumi kota kelahiran saya dengan kota Duri yang katanya disana sumber minyak ?? Jalannya aja masih mulus di Kota Sukabumi, jauhh sekali.

    Swalayan, yang saya tahu disana cuman ada swalayan yang dinamakan “Mandiri”. Fasilitas lainnya, ah jangan dulu cerita kota kutai (a) atau balikpapan yang sama – sama kontribusi minyak, sama Kota sukabumi aja deh :) , kecuali anda orang komplek / yang kerja di Caltex (sekarang Chevron).

    Soal Balikpapan, saya pernah tinggal disana dua bulan, kotanya sangat rapih dan teratur. Soal kutai, saya dengar dari teman saya yang tinggal di Balikpapan, katanya sekolah disana sudah gratis sampai jenjang SMA sejak lama sebelum Calon – Calon Pemimpin Daerah sekarang kampanye soal tersebut.

    Bagi saya, sebagai tempat pengahasil mimyak, rakyatnya harusnyadapat sedikit subsidi. Sedikit atau banyak, mereka terkena limbahnya juga walau difilter seperti apapun.

    Di dekat waduk Jatiluhur (yang jadi salah satu sumber listrik bagi kota jakarta dan sebagian jawa barat) di purwakarta, ada satu kecamatan yang mereka terpaksa harus bersebelahan dengan waduk jatiluhur.

    Untuk kompensasinya, mereka dapat listrik, air gratis, malah saya dengar ada satu desa yang dapat subsidi susu gratis sampai beasiswa, informasi ini saya dapat dari orang dinas pendidikan sana, sewaktu saya pelatihan PAS.

    Mudah – mudahan ini bisa terwujud di Kota Duri juga (atau mungkin sebenarnya sudah terwujud hanya saya tidakk tahu?? wallahu’alam)

    Mengenai kutai, baca disini http://rafaelbudi.wordpress.com/2007/09/07/pesona-wisata-kota-kutai-kertanegara/

  6. Eh, barusan kemarin aku nelpon sodaraku yg di Duri, katanya sekarang udah ada Ramayana. katanya baru buka aja udah rame, sampe yg mo naek eskalator aja pd ngantri.

    Kesian banget ya Duri, baru punya Ramayana aja udah heboh.. kayak kampungan githu deh…(sorry ya :>) bukan mo ngremehin gitu lho, krna aku jg asli orang Duri, cuma sebagai putri daerah akunya turut prihatin (ceile…!)

    Itukan baru gambaran perekonomiannya, gimana ya kondisi geografisnya. Setau aku, jalanannya parah banget, dibeberapa ruas jalan banyak sekali lobang besar. tapi ga tau ya sekarang. tapi yg pasti jauh banget deh ama jalanan di kota sukabumi yg bukan kota minyak.

    Pendidikannya apalagi, setamat SMA rata2 pada gengsi ngelanjutin di Duri lagi, paling ga kuliah di pekanbaru deh.. karena sekolah setingkat akademi ato perguruan tinggi di duri masih diianggap ga berbobot dan lagian masih sedikit.

    Ga sebanding banget deh keadaan Duri ama yg dihasilkan alamnya. Minyak Bow!! Dimana2 minyak suka jd sensasi. Minyak naik, apa2 jd ikutan naik. tapi Duri tetap begitu2 aja.. Kesiannn…deh Duri!

  7. Maaf mas, saya berasal dari Duri. Mohon diizinkan berpendapat. Kebetulan seumur hidup saya tinggal di Duri, sejak lahir, tapi sekarang sedang kuliah di Malaysia.

    Bapak saya bekerja di Chevron, dan saya bisa mengatakan bahwa Chevron juga memiliki program Community Development (CD) yang terlah berpuluh tahun dijalankan. Beberapa contoh, program Puskesmas Keliling ke pedalaman, yang sampai sekarang masih berjalan, serta pembangunan gedung-gedung masyarakat di berbagai tempat.

    Mengenai jalan di kota Duri, saya sendiri sudah merasakan betapa jeleknya jalan di sini. Tetapi, beberapa kali tokoh masyarakat telah meminta kepada Pemkab Bengkalis tentang masalah ini, dan mereka dengan santainya menjawab “Itu kan jalan Negara, jadi kami tidak bertanggungjawab memperbaikinya”. O iya, Duri adalah salah satu kota yang dilewati Jalan Lintas Timur Sumatra. Alhamdulillah, sekarang jalan2 (termasuk dua ruas jalan utama, Jl. Hangtuah dan Jl. Jend. Sudirman) sudah di aspal kembali, sehingga transportasi menjadi lebih baik. Chevron sendiri telah memperbaiki beberapa ruas jalan, tetapi tidak jalan utama, karena pemerintah sendiri tidak memberikan kewenangannya.

    Perekonomian Duri, menurut saya, sangat tergantung dengan keberadaan Chevron sebagai Kontraktor Kerjasama di sini. Kenapa? Karena sebagian besar kegiatan operasional Chevron dilakukan di Duri, Bangko, dan sekitarnya. 88% dari hasil tersebut diberikan kepada pemerintah, menjadikan Bengkalis kabupaten kedua terkaya di Indonesia (setelah Kutai Kartanegara). Sebagian masyarakat Duri adalah pegawai Chevron dan para kontraktornya, dan sebagian lagi adalah pedagang ataupun wiraswasta.

    Memang, saya merasakan begitu besar kesenjangan antara kompleks Chevron dengan Kota Duri itu sendiri, karena memang pembangunan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Pemkab Bengkalis, tidak sebanding dengan yang dilakukan Chevron di kompleksnya.

    Tentang Ramayana, ya… maklumlah, orang Duri memang agak kampungan untuk ukuran orang di kota besar, karena kami betul2 hampir terisolasi dari peradaban luar.

    Saya dalam hal ini bukan membela Chevron ataupun membesar-besarkan, tetapi melihat fakta yang ada, tanpa mengesampingkan hal2 yang lain. Jika anda sempat melihat kantor camat Mandau, anda bisa melihat kantor itu berdiri dengan megahnya, karena korupsi yang sudah merajalela di kalangan birokrat. 88% hasil produksi yang diberikan kepada pemerintah menguap begitu saja, atau masuk kantong para pejabat daerah. Saya dengar-dengar, jadi pejabat di Kab. Bengkalis itu paling enak, soalnya dana CD dari Chevron dan berbagai sumbangan untuk masyarakat yang jumlahnya hingga Milyaran dengan mudahnya ditilap atau dikorupsi.

    Terima kasih atas perhatiannya, maaf kalau terlalu panjang dan salah2 kata.

    Bravo Duri!

  8. Bagi saya apakah Bengkalis sebagai Pemda yang korupsi atau Chevron yang tidak perhatian semuanya itu masih tersamar.

    Kita pun tidak bisa menuduh begitu saja, tapi mungkin yang masyarakat Duri perlukan hanyalah langkah nyata.

    Kalau saya melihatnya, bahwa mungkin saja Kabupaten Bengkalis itu kejauhan ke Kecamatan Mandau dalam melakukan pemeriksaan sehingga tidak perlu diadakan pemekaran. Bahkan kalau dilihat dari peta saja, luas sekali wilayahnya, bahkan orang – orang dari Mandau harus menyebrang.

    Mungkin saja jika Duri / Kecamatan Mandau mekar dan berpisah dari Kabupaten Bengkalis, pengawasan terhadap Chevron dan pembangunan kota Duri sebagai kota minyak lebih fokus.

    Barangkali itu mungkin langkah nyata, toh Bengkalis masih punya kekayaan daerah dari hasil lautnya. Bandingkan dengan kecamatan Mandau yang terisolasi.

  9. Duri itu cuma kota kecamatan, jelas secara administratif pemerintahan jauh dibawah Balikpapan…

    dan sejauh ini memang merepotkan, segala sesuatunya harus di urus ke Bengkalis yang lebih “udik”…. sementara mau mekar menjadi kabupaten sendiri, tidak dikasih.. bahkan sudah keputusan pemerintah pusat.

    Kembali soal polusi…..

    Limbah air buangan Caltex sudah ada standar kandunganya yang harus memenuhi standar lingkungan hidup lho..

    Jujur aja, Aq sampai sekarang masih suka mandi di sungai-sungai di kota duri… tapi ogah mandi di curug dago….

  10. Duri….
    1. jalannya jelek, tapi sekarang jalan di kota sudah bagus di hang tuah dan sudirman. tapi jalan lintas timur sumatra masih jelek. masak dari bakaheuni ke duri via darat, jalan yang jelek ada di rokan dan duri? yang lain bagus2.

    Pernah masuk ke ‘dalam’? lebih parah lagi, baru masuk 4-5 KM dari sebanga, ketemu jalan kerikil. pk spd motor paling kenceng 40 KM/jam. setelah KM 13, jalan seperti kubangan…
    akhirnya 60 KM ditempuh 2.5 jam pakai sepeda motor. Off road!!

    2. Kalau ngurus administrasi harus ke Bengkalis, Duri-Dumai pakai travel 2 jam. Terus dari DUmai naik kapal 2 jam. kalau urusan lewat jam 12, harus nginep. kapal terakhir jam 12 siang. (kadang molor sih sampai jam 1 siang).
    padahal kalau mau ke malaka malaysia, pakai kapal 3 jam dari Dumai dah sampai !!

    3. Ukuran kecamatan, baik mandau (duri) maupun pinggir terlalu besar. dari ujung ke ujung sekitar 60 KM. kalau di jawa sudah jadi berapa kabupaten ya?

    4. Aturan limbah di chevron sendiri sudah ketat. mudah2an gak ada limbah dari chevron.
    Buat accounting kalau telat bayar invoice ke vendor saja kena tegur kok….
    Di Chevron KPI-nya jelas…

    Btw, sekarang kok sepi lagi, gak ada isu2 kepengin jadi kabupaten lagi.

    secara administratif memang tidak layak, karena baru ada 2 kecamatan. Minimal 3 kecamatan.

    Kecamatan mau dimekarkan beberapa tahun yang lalu, tapi SK berhenti di Bupati welah2…

  11. Duriku,
    Kalau dilihat dari luar memang samar. Kota duri…hehehe..meski masih kecamatan tapi Omzetnya wah…
    Jalannya emang parah…tapi disinilah gulanya prop. riau.
    Soal Limbah chevron emang bisa menjadi mata pencarian Oknum tertentu.memang isu limbah sempat santer….tapi, bagi Oknum yang dapat kue pembagian…..
    Satu hal yang paling menarik. Perusahaan yang jelas2 merusak lingkungan nggak pernah ditindak, bahkan rumah sakit yang membuang limbahnya ke PARIT nggak di permasalahkan. ada apa ya….padahal Efeknya …hihihihihi.

  12. Kalau Mo informasi Limbah…ya..mari kita datng rame-rame ke DURI…

  13. Wah, pakai inisial ku hehehe, gpp deh, kan beda, satu “penulis bebas”, kalau saya “Penulis Bebas”

  14. Jika mau berkomentar soal Duri, bisa di halaman sebelumnya http://kilasanku.wordpress.com/2008/06/19/haruskah-kecamatan-mandau-menjadi-kabupaten-bagian-1/

    Kalau mis. ini sudah kepanjangan

  15. saya juNe…
    saya AdaLah saLah satu puTra daerah yang berasal dari Duri…
    sekarang sya sdang melanjutukan sTudi S1 saya disaLah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Padang..
    Tetpi keLuarga Besar termasuk Orang tua saya sendri mash Berada di DuRi..
    sya sebenarnya juga sangat khawtir terhdap perkmbangan yang terjadi di daerah saya sendiri sebab dari sejak dulunya perkmbangan yang terjadi tidak melihatkan hasil yang maksimal… saya tidak tau apa yang terjadi di dalam perundingan di kantor-kantor pejabat d Sana…
    sya sangat setuju sekali apabila daErah saya memisahkan diri dari Kabupaten bengkalis dan berdiri sendiri tideak dalam Naungan siapapun…
    trima kasih…

  16. masaLah Comp. CaLtex d Sana…
    say juga meLihat jeLas Perbedaan-perbedaan yang terjadi antara daerahkawasan comPLex dengan kawasan di Luar comPlex… diiBaratkan Langit dan Bumi…
    Negeri yang begitu kaya tetapi masyarakatny senDiri MoRat-marit dalam perekonomian..

  17. @june : saya tidak tau apa yang terjadi di dalam perundingan di kantor-kantor pejabat d Sana…

    Kita memang tidak tahu, maka kita haram hukumnya bersangka buruk, karena boleh jadi mereka merundingkan kebaikan.

    Tetap gunakan cara yang bijak. Menurut saya, nasihat lebih didengar dan akan masuk kedalam sanubari dibandingkan dengan cara – cara yang tidak islami.

    Terlebih jangan sampai kita malah membuat permusuhan dengan pemda setempat dengan bershu’udzan yang tidak terbukti.

    Bagi saya melihatnya, sebenarnya bukan pemekaran atau pemisahan yang paling diperlukan oleh masyarakat Duri, tapi yang dibutuhkan sedikit perhatian dari pemda setempat.

    Seandainya pemerintah pusat memutuskan kecamatan Mandau menjadi Kabupaten, maka kita bersyukur dan berharap para tokohnya melaksanakan amanah sebaik – baiknya.

    Sebaliknya jika pemerintah pusat memutuskan kecamatan Mandau tetap kecamatan, maka kita pun harus bersyukur, karena dengan para tokoh masyarakat Duri tidak terlibat langsung di pemda maka ada sistem kontrol yang baik.

    Yang harus kita hindari adalah mencontoh sikap khawarij seperti berdemo, membakar api kebencian kepada pemimpin, yang intinya mengajak anggota masyarakat melakukan pembakangan kepada pemerintahnya.

    Padahal boleh jadi semua keadaan ini harus dijadikan intropeksi diri bagi setiap lapisan masyarakat baik bagi pemimpin maupun yang dipimpin.

    Tempuh cara yang bijak dan selalu yang paling utama adalah saling nasehat menasehati agar kita bertaqwa kepada Allah.

  18. Assalammualaikum wwb.,

    Mandau jadi kabupaten, itu kemungkinan besar akan terwujud.cepat atau lambat, karena itu sudah menjadi salah satu agenda pemekaran wilayah di propinsi Riau. Kabar terakhir, kenapa sampai saat ini belum terealisasi, karena masih banyak persyaratan yang belum terpenuhi seperti pembagian administrasi wilayah yang belum jelas. Berbeda dengan Kabupaten Kepulauan Meranti yang kemungkinan besar telah siap “memproklamirkan” menjadi kabupaten baru di propinsi Riau.

    saya mengerti keinginan saudara-saudara,
    tapi, ada salah satu hal yang saya sayangi dan kurang pantas rasanya dan sepertinya tidak mempunyai etika kalau berpendapat.
    memberi gaung pada kabupaten Mandau, contohnya pada salah satu thread yang pernah saya kunjungi, sungguh pedas sekali komentarnya. tak usahlah dengan kekerasan sampai-sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas dengan menghina Bengkalis sebagai kabupaten induk, karena itu tidak mencerminkan sifat terpelajar, dan bukan ciri khas masyarakat Riau yg baik. Jika kita mengatasnamakan Bengkalis, artinya kita telah sekaligus menghina saudara-saudara setanah air sendiri, karena bagaimanapn Bengkalis adalah bahagian terbesar dari propinsi Riau.
    Jika semua ikhtiar telah dijalani dan semua cara telah ditempuh, alangkah lebih baik kita iringi dengan berdoa dan bershalawat, bukankah itu lebih afdol di Mandau yg kita kenal ini sebagai masyarakat yg religius? Smile Banyak sumbangan yg telah diberikan Bengkalis pada kita terutama pada hasil alam, perkembangan, kecamatan Mandau khususnya meskipun masih banyak kekurangan, tapi marilah kita hargai.

    Kenapa banyak yg menuntut keadilan? banyak yg menuntut kemerdekaan sendiri? itu tak lepas juga karena pembangunan yg tiada merata. Ini juga merupakan hal yg lumrah karena wilayah Kabupaten Bengkalis sangatlah luas. Dan pemerataan tidak sepenuhnya, hasil bumi juga masih dikelola oleh asing, belum lagi pembagian hasil bumi antara daerah dan pusat. sehingga menuntut Riau untuk berotonomi khusus.

    Pertanyaanya,
    Apakah setelah Mandau merdeka akan menjamin sepenuhnya bagi kesejahteraan masyarakat Mandau? ingat, jika Mandau sudah menjadi kabupaten bukan hanya Duri saja yang ingin maju, daerah-daerah lain yang menjadi bahagian kabupaten juga menuntut hal yg sama.

    mohon ini dipikirkan secara baik-baik

    Apakah dampak dari pemberian otonomi ini akan secara langsung mengenai tiap warga Mandau?
    dan ingat pula pemberian otonomi ini semata-mata demi kesejahteraan masyarakat Riau! bukan kesenangan belaka.

    Minyak?
    apakah ini yang menjadikan sebuah alasan?

    Ingat pula, daerah penghasil Minyak juga belum tentu dapat memajukan potensi daerahnya seperti di yg ada di Kalimantan. terlebih lagi di Duri, minyak sebahagian besar masih dikelola oleh pihak asing, bukan pemerintah!

    jika kita membicarakan tentang sumberdaya alam seperti minyak. seperti yg kita ketahui di Duri minyak dan gas alam di kuasai oleh perusahaan asing, Chevron. artinya meskipun kita sudah berlega hati diberikan otonomi daerah termasuk mengatur sumberdaya alam kita. namun kenyataannya jauh dari yg diharapkan, boleh dikatakan kalau otonomi daerah merupakan otonomi yg semu. Dimana-mana tetap yg komandonya adalah “pusat” Sad .
    kita masih bisa menjumpai keadaan seperti ini, dimana masih banyak orang2 memperjuangkan pembagian hasil bumi yang tidak adil dengan pusat, bahkan menjadi isu utama dalam forum otonomi khusus Riau.

    Ingat, sewaktu Soeharto msh berjaya, sebelumnya telah terjadi suatu kontrak politik 100 tahun antara minyak bumi Riau yg pd saat itu dikuasai oleh PT Caltex dengan pusat. artinya kontrak tersebut barulah berakhir setelah 100 tahun ditandatanganinya pernyataan tersebut semenjak era 70′an dimana hasil minyak bumi tetap diatur oleh pusat Sad , Astaghfirullah. Pantas saja masyarakat sampai saat ini menggaung-gaung otonomi khusus Riau, sampai2 diadakan kongres pemuda Riau di Pekanbaru beberapa bulan yg lalu.

    pantas kalau saudara muda kabupaten Bengkalis yaitu kabupaten Siak sangat bersyukur saat mereka terealisasi menjadi sebuah daerah otonom terlepas dari kabupaten induk terlebih lagi sukses memiliki ladang minyak zamrud yg kini menjadi PT Bumi Siak Pusako dan ladang Gas Bumi di daerah Libo dan Talas, tapi di daerah Minas(bahagian dari kabupaten Siak) tetap dikuasai Chevron. artinya, kabupaten Siak lah yang mengelolak minyak buminya.
    kita bisa lihat bagaimana perubahan besar-besaran terjadi di Kabupaten Siak yang kita ketahui dulu kondisi alam di Siak jika kita bandingkan dengan Duri,Mandau masih sangat perawan dengan hutan2 yg jauh lbh luas dan lebat, orang2 menyebrang dengan rakit,perahu, kapal,ataupun feri. Nah sekarang, jauh berbeda,dari segi infrastruktur dan ekonomi sudah dikatakan bekembang pesat. boleh dikatakan daerah otonomi paling sukses di Riau adalah Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan.

    demikian tambahan sedikit dari saya semoga di kemudian hari Mandau semakin maju dan semakin dikenal, mungkin pula tidak perlu harus “mendurhakai” Bengkalis sbg kabupaten induk. . Kemajuan hanya dapat tercapai dengan sikap kebersamaan dan rasa persatuan. dan ingat pula, “Dimana bumi dipijak, disitu Langit dijunjung”.

    Wassalammualaikum wwb.

  19. assalamualaikum

    subahanallah ada yang membahas tanah kelahiran saya di internet..

    oke…saya juga ingin berkomentar pertama untuk saudara eko dan wan hadi…untuk wan hadi “dengan berpisah nya mandau dari bengkalis minimal orang-orang yang ingin mengurus administrasi (daftar PNS dan apalah itu hal hal birokrasi) tidak perlu lagi buru2 kedumai subuh2 untuk mengejar kapal”
    bengkalis tidak peduli sama pendidikan..mau contoh ?? saya sedang berkuliah di Universitas Indonesia..kebupaten siak memiliki mahasiswa kiriman yang nantinya akan kembali ke daerah mereka..tiap tahun ada 5 pelajar yang mengikuti program ini..ini tentunya tidak terlepas dari keinginan mereka untuk memajukan daerah mereka..bengkalis mana??? itu baru dari segi pendidikan..
    bagaimana dengan pelayanan fasilitas umum???

    sedikit analogi saja…ketika saya sedang berada di bank mandiri jalan hang tuah..ada seorang nasabah yang berkata “wah..besar benar ya bank di duri…di bengkalis lebih kecil” waduuuh..boss..berapa orang sih yang netap dibengkalis anda tercinta???

    bengkalis hanyalah orang tua yang bisa membebankan biaya hidupnya kepada anaknya…they dont have any talent and potential to run their own life…face that reality…

    salam untuk pak syamsurizal…

  20. assalamualaikum everybody

    saya setuju banget dengan ridho.
    saya adalah putri daerah mandau. emang sangat miris bila ingin mengurus administrasi yang mengharuskan warga duri datang ke bengkalis.
    beberapa hari yang lalu, saya k bengkalis ingin mengurus akte kelahiran adek. saya memilih langsung ngurus ke bengkalis agar urusan akte tersebut cpat slese karena apabila di urus di kantor camat duri akan membutuhkan waktu 2-3 bulan. can U imagine that???. tp sampe di bengkalis apa yang saya dapatkan?? birokrasi yang bertele-tele yang mengharuskan saya menunggu 1 minggu agar akte slese. ingin marah rasanya, karena saya harus meninggalkan pekerjaan beberapa waktu. but, what can I do??
    kapan ya mandau jadi kabupaten, supaya urusan administrasi gak harus capek2 kebengkalis yang pasti butuh dana yang tidak sdikit.

    bravo kec.mandau

  21. Saya setuju Kota Duri mengalami pemekaran dan menjadi sebuah ibukota kabupaten.
    Hal ini dilihat dari :
    1. Kecamatan Mandau merupakan kecamatan terluas di kabupaten Bengkalis
    2.Kecamatan Mandau memiliki jumlah penduduk yang sangat padat dibandingkan kec. lainnya yang ada di kab. Bengkalis
    3. Duri merupakan penghasil minyak terbesar di Indonesia sehingga pendapatannya besar

    Oy. saya berharap kepada pemerintah setempat juga memperhatikan masalah penghijauan di kota Duri agar menjadi kota yang asri dan juga dapat mengurangi kegersangan dan polusi udara.

  22. dengan apbd 3.7 triliun…
    apa yang kita rasakan dalam satu tahun tidak pernah sepadan..
    ayooo perjungkan…
    pilkada besok pilih caleg yang benar2 akan memperjuangkan mandau..bukan memperjuangkan kantongnya sendiri

  23. Saya pikir, kalau Bengkalis tidak rela Mandau melepaskan diri, sebaiknya izinkanlah Duri menjadi ibukota kabupaten Bengakalis.Saya rasa pemerintahan akan berjalan lebih efektip. Cobalah Cik pikir, bagaimana menjalankan pemerintahan dari pulau nun jauh disana, sementara rakyatnya lebih banyak di daratan. Betul tak…?

  24. well,,,saya juga terlahir di kota yang sedang dibicarakan,,,,
    bicara masalah kota duri dengan seluruh aspek keruangan yang ada didalamnya saat ini memang agak sukar untuk melakukan pemekaran.karena ada bebrapa syarat pemekaran yang belum terpenuhi.pertanyaan besarnya adalah beberapakan total penduduk Duri?pemekaran menjadi kabupaten atau kota madya bukan itu yang menjadi jawaban dari permasalah dalam upaya menciptakan Duri ke arah yang lebih baik. harus ada kemauan dan kemampuan dari masyarakat kota Duri sendiri yang disebut rurbanisasi. yaitu, upaya dari masyarkat untuk mengembangkan daerah dengan mengasah potensi yang sudah ada selama ini. jangan terlalu mengadalkan pihak lain termasuk chevron dan pemda. pengembangan potensi jika berjalan optimal maka akan menciptakan stimulus sendiri di kota Duri.
    terkait dengan perbandingan jalan di Duri dengan kota di Jawa jelas bebeda jauh. jalan diJawa yang diprakarsai belanda merupakan aspal yang sangat baik sehingga tidak berlubang. itu terkait dengan kualitas aspal dan memang program yang direncakan oleh pemerintah kolonial. sangat berbeda dengan jalan di Duri, selain kualitas syarat jalan yang harus ada darinase dll belum terpenuhi. inti permasalahannya adalah tidak adanya stimulus ekonomi yang lain selain mengandalkan minyak bumi yang justru sangat sekdikit dirasakan manfaatnya oleh penduduk duri. untuk itu perlu adanya upaya spesialisasi ekonomi kota duri agar mampu lebih mandiri. pada akhirnya ibarat gula dengan semut jika ekadaan ekonomi baik maka akan melahirkan pembangunan dan kota Duri dengan sendirinya akan mekar. tanpa harus memaksa kebijakan yang top down tetapi lebih bersifat dari bawah.

  25. Saya baru berkunjung ke kota Duri.
    Dan kecewa dengan kondisi di sana.
    Tidak mencerminkan sebagai kota penghasil minyak, baik dari atas tanah maupun bawah tanah.
    Kata pejabatnya, tidak ada yang gratis di negeri ini. Bagi saya, kalau biaya tersebut untuk kemajuan daerah rasanya memang layak dikeluarkan tetapi kalau biaya tersebut tidak resmi tanpa tanda terima, maka layak dipertanyakan. Mungkin patut pula dipertanyakan, kemana hasil bumi yang ada apakah kembali untuk dinikmati oleh rakyat setempat atau untuk memperkaya sebagian saja yang sedang berkuasa.
    Demikian kesan mengecewakan yang saya terima, setelah saya kunjungi kota Duri.

  26. udah jadi pemko ajj :)
    duri ok kok
    i like duri city
    eheheheh
    jadi pengen lagi kesana

  27. saya putra daerah asli duri.saya lahir dan dibesarkan di kota ini.sekarang Saya berkuliah di salah satu institut teknik swasta di kota Bandung(pengen nya sih ITB tapi gk lulus SPMB)haha…
    saya sangat bangga bisa menjadi putra daerah yang sangat kaya raya ini,bahkan saya bertekad jika saya lulus nanti dari kuliah,saya ingin membangun daerah yang saya cintai ini dengan ilmu yang saya miliki dan yang saya dapat dari perkuliahan(aminin dong…amiiin!!)
    tapi ya itulah wujud cinta saya dengan kota yang udaranya panas satu ini…..love u duri

  28. Dulu Teman2 panggil saya jon,Rumah di desa harapan dekat mesjid Taqwa(nggak tahu sekarang),,saya SD di sebanga SDN 03,kepseknya waktu itu Bpk.H.Chozaini,saya sudah belasan tahun meninggalkan kota Duri,,dan memang perkembangan Duri lambat sekali,,saya setuju Duri harus dikejar pembangunanya,,
    sekarang saya tinggal Di kota Batam ( Kepri ),,nah apa bedanya,?,waktu kepulaun Riau,masih under Prop.Riau,pembangunan sangat lamban,,now you can see,all has been changed,,Batam and Kepri perlahan bergerak maju,,so any how,,,saya sebagai putra kelahiran Duri meyakini Duri dari dahulu telah mandiri,tapi hasil kemandirianya dinikmati daerah lain..APBN kali yaa,(REd,mungkin juga pembangunan Kota jawa hasil Minyak dari Kota Duri ),,Even Duri now is going better,tapi jangan cepat puas,,berjuanglah demi kemajuan generasi muda,,Duri Kota tua,,wajar dong tampil lebih muda ( seger pembangunan ),,untuk bapak2 pemda,,saya yakin, juga berpikiran sama,,mungkin menunggu waktu aja,,oke kita harus sabar,,,tapi lebih cepat lebih baik kan,,hee hee,,to all my old friends,,Raymond talmera,Alpin,Syukri,Pili,El darto,AND to: Priyono,Andi Surya,Zulfahmi,Fatmawati,, SDN 03 SEBANGA 1982-1986,,, I REALLY MISS YOU…,

Tinggalkan Balasan